jump to navigation

Sunnah dan Syi’ah Februari 5, 2008

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

1-21.jpg

Saat tulisan ini dipersiapkan, beberapa konflik berdarah sedang terjadi di Pakistan, ulama Sunni dibunuh, jamaah shalat di masjid Syiah ditembaki, saling bakar perumahan antar pengikut Sunni dan Syiah. Beberapa waktu sebelumnya, sebuah komunitas Syiah di Afghanistan dihabisi oleh penguasa Taliban. Peristiwa memilukan ini seperti menegaskan bahwa sengketa lawas pertikaian dua aliran terbesar dalam Islam ini tidak akan pernah berakhir. Seperti minyak dengan air, kucing dengan anjing. Sudah jamak pengucilan, pengusiran dan pemutusan hubungan famili menimpa salah seorang anggota keluarga karena berani menganut mazhab yang berbeda dengan keluarga besarnya.

Bermula dari sekadar sengketa kepemimpinan setelah Rasulullah wafat. Pihak Ali bin Abi Thalib dari klan bani Hasyim mengklaim bahwa jabatan khalifah (pengganti), berdasar nash dan simbolisasi beberapa peristiwa tertentu, diamanatkan kepadanya. Sebaliknya, kalangan dekat lainnya yang kebanyakan dari bani Umayyah dan bani Abbas menganggap khalifah adalah wilayah profan, tiada sedikitpun wasiat apalagi terkait dengan nash.

Mereka membuktikannya di Saqifah, tempat musyawarah pemilihan di kalangan kaum Anshar dan Muhajirin yang kemudian memunculkan Abu Bakar. Dengan kondisi masyarakat Islam yang masih muda, tribalisme yang belum pupus, dan manajemen politik elite Islam yang masih tradisional, pertikaian ini mengerucut pada akhir kekuasaan khulafaur rasyidin.

Lazimnya faksi marjinal namun dianggap laten, syiah Ali bin Abi Thalib terusir dari wilayah politik, diburu dan dihabisi oleh rezim yang dominan. Konflik politik lambat laun beralih ke wilayah teologi dengan rumusan-rumusan khasnya. Ajaran ini kemudian disenandungkan oleh kedua pihak yang bertikai secara turun temurun ke anak cucu mereka masing-masing. Konflik di Pakistan di atas adalah salah satu contoh terkini.

Kita adalah generasi kesekian dari produk pertikaian mazhab ini. Sistem informasi dan pendidikan yang kita terima mengajarkan bahwa mazhab “kami” representasi dari Islam yang sempurna. Sedangkan yang lain, “mereka”, menganut mazhab yang tercemar, kalau tidak dianggap sesat. Sehingga menimbang keberadaan mazhab lain tidak menambah hal lain kecuali wacana belaka, bukan apresiasi. Ketertutupan komunikasi hanya menguatkan stigma negatif pada kedua belah pihak.

Sehingga mazhab mayoritas dianggap representasi Islam yang hakiki, bukan bagian dari komunitas mazhab lainnya. Contohnya, jarang ada yang mengetahui bahwa mazhab Ahlulbait (Syiah) adalah mazhab terbesar kedua setelah Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni). Banyak stigma negatif ditimpakan kepada Syiah. Sebagian memang harus ditelaah, namun tak kurang pula yang berupa persepsi keliru, bahkan fitnah. Seperti tudingan kepada Syiah, bahwa: imamah itu kultus individu, taqiyyah itu hipokrit, ritual-ritual bidah, mut’ah itu seks bebas, ekspor revolusi, dan segala macamnya. Padahal banyak khazanah ilmu dalam Syiah yang perlu dipelajari oleh Sunni. Alih-alih mempelajari, kita malah takut dengan ajaran Syiah.

Menjalin kembali hubungan dengan Syiah adalah mempersatukan seluruh umat Islam di dunia sehingga dapat menjadi kekuatan politik signifikan vis-à-vis ideologi sekular atau hegemoni dunia Barat. Di sisi lain, persatuan umat Islam dapat memupuskan tiga persoalan besar yang dihadapi bangsa ini: ketidakadilan di bidang ekonomi, politik, dan sosial. Kolusi, korupsi dan kesenjangan sosial sudah mencolok mata. Kedua, keterbelakangan pendidikan. Ketiga, degenerasi moral. Kita jangan terjebak pada pertentangan internal yang tidak produktif.

Kita memang tidak perlu konversi mazhab. Namun eskalasi konflik mazhab di negara-negara Muslim sangat mungkin menimpa kita pula di Indonesia. Tinggal kita menentukan sikap, apakah masih mau menjadi korban sengketa mazhab yang sudah berusia ratusan tahun, ataukah kita berkenan berdialog dengan mazhab lain untuk menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghargai? [andito]

Komentar»

1. esensi - April 30, 2008

Saya mendapatkan beberapa hal yang selama ini saya cari mengenai Sunnah-Syi’ah dalam postingan Anda.

[belajar 100%]

Salam,.

2. oneng - Mei 1, 2008

oneng pikir tuangan ke dalam tulisan anda telah menggugah hati oneng sehingga berpikir 1000 kali untuk ikut ke syi’ah

makasih telah mengingatkan oneng

3. Perdi - Mei 7, 2008

sampai disini saya merasa cukup bijak dalam menatap konflik warisan ini…

4. mala - Juli 21, 2009

kalo nikah antara wanita suni dengan pria syi’ah gimana bang?

5. miryg - September 7, 2009

blh x kasi simple penjelasannya…masih pusing la mikirin…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: