jump to navigation

Objektivikasi Agama Februari 5, 2008

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

transcendence.jpg 

KEBAIKAN adalah tujuan tiap sesuatu, demikian Aristoteles dalam Nichomachean Ethics. Bagian-bagian kebaikan meliputi: kebaikan mulia yang esensinya berupa kearifan dan nalar; kebaikan terpuji, yang berbentuk kebajikan dan tindakan sukarela yang positif; kebaikan potensial, berupa suatu kondisi untuk memperoleh kebaikan aktual, dan kebaikan bermanfaat, yang berupaya memperoleh kebaikan-kebaikan lain. Ibn Miskawaih dalam Tahdzîb al-Akhlaq kemudian menyimpulkan bahwa kebaikan akan dicapai oleh manusia apabila dia dapat melaksanakan kemauan dan upayanya yang sesuai dengan tujuan manusia. 

Manusia paling baik, lanjut Ibn Miskawaih, adalah dia yang paling mampu melakukan tindakan yang tepat baginya, yang paling memperhatikan syarat-syarat substansinya, yang membedakan dirinya dari seluruh alam yang ada. Setiap orang yang pemikirannya lebih tepat dan benar serta pilihannya lebih baik, berarti kesempurnaan kemanusiaannya lebih besar. Orang seperti ini memiliki empat keutamaan jiwa: arif, sederhana, berani dan adil.

Satu dari empat kebajikan ini dikatakan dimiliki oleh seseorang dan terpuji karenanya hanya bila kebajikan itu juga dirasakan atau sampai pada orang lain. Artinya, aktualisasi kebahagiaan privat perlu syarat kebahagiaan publik dalam skala yang lebih luas dan lintas iman, yang dalam bahasa Kuntowijoyo sebagai objektivikasi.

Objektivikasi adalah konkretisasi, upaya naturalisasi kebaikan, sebuah perbuatan rasional-nilai yang diwujudkan dalam perbuatan rasional atau kategori-kategori objektif, sehingga orang luar dapat menikmati tanpa harus menyetujui nilai-nilai asal (keyakinan internal). Dengan demikian, hal ini akan menghindarkan sekularisasi antara paradigma abstrak-praksis dan dominasi dalam masyarakat, mayoritas-minoritas (1997, 66-68).

Sebaliknya, orang yang tidak mampu melakukan objektivikasi cenderung mengidentifikasi kebaikan sebagai milik “kami”, bukan “kita”, dalam kerangka keberagamaan etnis.

Secara alamiah, “kami” mengkavling kebaikan sebagai produk paten lembaga agamanya sendiri. Setiap yang Lain (the Others) harus membayar royalti kebenaran dengan cara mematuhi sistem mereka. Kondisi yang justru menimbulkan sikap antipati bahwa semua agama punya tendensi mereduksi nilai-nilai universal. Kata Imam 'Ali, “Ada hak dan batil, dan masing-masing punya pengikut.” (Nahj al- Balâghah, Khutbah 16).

Ibn Miskawaih mengelompokkan perbuatan ini sebagai kejahatan, karena hal ini menjadi penghambat manusia mencapai kebaikan, entah hambatan itu berupa kemauan dan upayanya, atau berupa kemalasan dan keengganannya mencari kebaikan.

Keselamatan tidak dapat ditemukan dalam sektarianisme keagamaan, kata Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar, sebagaimana dikutip oleh Farid Esack dalam "Qur'an, Liberation, and Pluralism" (1997), tetapi di dalam keyakinan yang benar dan kebajikan. "Aspirasi kaum Muslim, Yahudi, atau Nasrani terhadap pentingnya keberagamaan tak memberi pengaruh apa pun bagi Allah, tidak juga menjadi dasar ditetapkannya suatu keputusan" (1980, 1, 336).

Intelektual Iran kontemporer yang cukup kontroversial, Abdul-Karim Soroush (2002), mengatakan bahwa beragama, sebagai upaya menuju keselamatan, adalah hak setiap insan dan bukan kewajiban. Sehingga, sangat dimungkinkan orang berpindah dari satu agama ke agama lain berdasarkan keputusan pribadinya. Orang sulit mendudukkan diri sebagai pengamat bebas yang lepas dari objek yang diamatinya karena bodoh, rakus, pengecut, dan lalim–empat keburukan jiwa dalam klasifikasi Ibn Miskawaih.

Seperti kata J. Krishnamurti, "Memahami fakta itu sederhana; tetapi itu dibuat sulit oleh kesukaan dan ketidaksukaan kita, oleh pengutukan kita terhadap fakta itu, oleh berbagai opini dan penilaian yang kita punyai tentang fakta itu. Bebas dari berbagai bentuk penilaian ini berarti memahami yang aktual, apa yang ada."

Bagi Allamah Thabathaba'i, "Tak ada nama, tak ada sifat, yang bisa memberi kebaikan jika tidak didukung oleh iman dan amal saleh. Aturan ini berlaku untuk seluruh umat manusia. Satu-satunya kriteria, satu-satunya standar, ketinggian martabat dan kebahagiaan adalah keimanan yang benar kepada Allah dan Hari Kiamat, disertai dengan amal-amal yang saleh." (Al-Mîzân, 1973, I, 193).

Sikap terbuka dan kooperatif untuk mengkaji kemungkinan adanya kebenaran lain di luar mainstream keyakinan yang ada hanya berlaku bila sudah ada pemaknaan ulang tentang imân, islâm, dan kufr, dari “kata benda” ke “kata kerja”, karena Tuhan tidak memperhatikan label melainkan perbuatannya (QS. Al-Baqarah [2]:177; al-Zalzalah [99]:7-8). Bahwa setiap tradisi yang bertumpu pada transendensi universal niscaya membawa keselamatan bagi penganut agama lain. Kebebasan berpendapat, akhirnya, betapapun “ringkih dan naif”, tetap harus diberi ruang agar setiap proposal nilai dapat berdialog dan diobjektifikasi.[]

Komentar»

1. doni - November 11, 2010

than u materi nya …
^_^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: