jump to navigation

Menghancurkan Feodalisme Organisasi Kita Januari 29, 2008

Posted by anditoaja in Politik.
trackback

 docpointinfo_sokurov_sovietelegy.jpg

“Feodalisme adalah budaya syirik. Bersikap diam terhadap praktik kemusyrikan adalah musyrik.” (Nurcholish Madjid, sambutan KKA ke-200, 18 Oktober 2003) Setiap manusia adalah ideolog, yakni memiliki kesatuan ide-sikap-aksi, lepas dari apakah dia mengetahui secara ilmiah-argumentatif pemahaman yang dianutnya. Taqi Misbah Yazdi menyebutnya sebagai pandangan-dunia. Setiap ideologi harus dinilai kelengkapan dasar filosofisnya agar dapat punya makna dalam tataran sosiologis. Artinya, sebuah ideologi berpotensi menjadi arus utama paradigma seluruh manusia selama ia memiliki kelengkapan untuk menguniversal. Konsep ini berbeda dengan Jorge Larrain yang mengatakan dalam The Concept of Ideology bahwa ideologi “merujuk pada sistem pendapat, nilai, dan pengetahuan yang berhubungan dengan kepentingan kelas tertentu yang cara berpikirnya mungkin berbeda-beda”. Lembaga Cuma Alat, Bukan TujuanIdeologi perlu wadah untuk aktualisasi nilai dalam kehidupan masyarakat. Sebelum praktik, perlu ada objektivikasi nilai ideologis yang maksimal.  yang diarahkan kepada agen-agen perubahan masyarakat yang selanjutnya akan membawa perubahan kepada segenap lapisan intelektual negara dan masyarakat di bawahnya.Dalam strukturnya, nama lain tempat objektivikasi ideologi adalah organisasi, agen-simpul gerakan rakyat adalah kader, dan perkaderan adalah kawah candradimuka relasi organisasi dan kadernya. Dengan demikian, lembaga tersebut secara prinsip menekankan kemampuan manajerial dan konseptual pada setiap kadernya yang kesemua teori-praktiknya dapat ditemukan dalam berbagai bentuk pelatihan dan pendidikan lembaga tersebut. Berhasil tidaknya transformasi nilai tersebut, akhirnya, bergantung pada kekuatan dan kesolidan sistem perkaderan yang nantinya akan menyimpulkan apakah ideologi tersebut sekadar wacana diskusi atau memang ideologi sungguhan.Ukuran dan watak sebuah lembaga menentukan nilai implisit ideologi itu sendiri. Bila ideologi tsb rasional, reflektif, dan mencerahkan pemikiran, manusiawi, dialogis, gak dogmatis, universal, praktis dan aplikatif maka wadah formal yang menjadi pangkalan resminya akan tidak dipedulikannya lagi. Ia, sesuai dengan karakter aslinya, sekadar “ngontrak” di tempat itu dan pada akhirnya akan mengglobal dan mengalahkan semua lembaga setingkat ormas, partai, bahkan negara sekalipun untuk selanjutnya melanglang buana menebarkan virus revolusi. Penganut ideologi ini adalah mereka yang, dalam bahasa Ali Syariati, bebas dari ego-manusia-alam-sejarah.Berbeda dengan ideologi yang eksistensinya bergantung pada lembaga. Semua penganutnya menganggap lembaga sebagai tujuan, berjuang mati-matian, berhamburan baku pukul, saling tukar aroma ketiak, kilik-kilik sana-sini adalah tabiatnya. Sebab lembaga adalah tujuan dan nirwananya. Praktik ini dinamakan ideologisasi. Ideologi akhirnya memang jadi basi, keburu pengap dengan sliweran aroma ketiak pengurusnya. Ideologi yang banyak campuran materialismenya, tidak bakal eksis, meskipun ia berlabel agama.Setiap lembaga yang berideologi benar tidak berarti bisa terus mempertahankan kemurniannya dan berjalan sesuai dengan alur sejatinya. Sebaliknya, lembaga yang ideologinya kopong tidak berarti berjalan geyol. Semua murni profesionalisme dan kesolidan sistem. Namun rumpian kita bukan di sini. Kalau hanya ini masalahnya, maka cukup dengan revisi sistem dan teknis perkaderan semua akan kembali normal seperti sediakala. 

Fosil Ideologi, Ensiklopedis dan Ideologis

Namun terdapat suatu masalah mendasar yang membuat sebuah lembaga benar bisa jadi tidak benar dalam berlembaga. Indikasi paling jelas dapat dilihat pada, kembali lagi, isi perut ideologinya. Situasi yang mendukung dan kemalasan kader bisa jadi alasan utama. Namun, ideologi bukan sapu tangan, yang berguna bila ingus kita mulai menetes. Ia adalah celana, yang mesti kita pakai terus menerus yg tanpanya kita tidak bisa kemana-mana.Dan pemahaman kader adalah kambing yang mudah untuk dihitamkan. Asumsi awalnya: Pemahaman kader tentang ideologinya selama ini ngawur, asal njeplak, dan gak gaul sehingga mereka tidak punya karakter jiwa kelembagaan yang sadar diri dan punya perilaku sebagai gerakan kolektif. Mereka juga tidak punya, apalagi memperkuat, jati-diri. Mereka asyik dengan pesona-diri yang mereka peroleh tanpa proses pendidikan yang terarah-berjenjang dan tersistem. Akibatnya, gerakan mereka tidak ideologis, tidak ada nilai-nilai lembaga yang bisa dieksternalisasikan, apalagi diobjektivikasi.Namun tidak semua materi dan bentuk kaderisasi dapat menghasilkan kader yang ideologis lagi militan. Kadang, yang terbentuk adalah kader yang sekadar tahu wacana dan istilah namun apa-apa yang diperolehnya tidak mengubah sedikitpun paradigmanya. Dalam aktivitasnya, dia berjalan dengan frame luar, bukan dari organisasinya sendiri. Ideologi organisasi hanyalah slogan kosong, selalu diserukan namun tiada bentuk nyatanya.Sosok ini hanya bermain-main di wilayah teoritis, dan tidak praksis. Kalaulah praksis, dia memakai konsep ideologi di luar organisasinya. Kalaulah orang ini suka menggauli buku, dia hanyalah intelektual menara gading, mengkaji ideologi karena kebutuhan/masalah pribadi, suka beronani dengan istilah rumit tapi tidak bisa menjadikannya sebagai praksis. Tidak ada yang khas dan bisa diambil manfaatnya dari intelektual suci dan/atau kader susupan macam ini. Boleh kita sebut, sosok macam ini efek dari kajian ensiklopedis.Berbeda dengan di atas, kajian ideologis mengaitkan antara teks dengan subjek di mana relasi yg terjadi adalah dialog antar subjek. Seluruh nilai yang disampaikan, meski terbuka dan argumentatif, tetap “mengarahkan” pada suatu paradigma kolektif organisasi. Pemateri tidak hanya menyampaikan materi, melainkan lebih jauh lagi, dia harus bisa mengubah pola pikir lama setiap peserta. Sebab dalam proses transformasi idelogi tsb, hanya terdapat tiga kemungkinan hasil relasi peserta-pemateri, yaitu: mempengaruhi, dipengaruhi, atau debat kusir. Seluruh konsep nilai bergantung pada argumentasi. Bila pemateri kalah berdialog, maka dia wajib turun gelanggang. Konsekuensi Terdapat beberapa konsekwensi internal dari bencana ini. 1] Setiap kader mempunyai pikiran-pikiran parsial yang lepas dari sistem secara kseluruhan, tidak ada kesamaan langkah, semua memburu posisi politis. 2] Setiap kader, karena paradigma pragmatis tadi, cenderung malas membangun institusi ideologis. Mereka memang nanti besar sendiri dan berjaya. Tapi karena tidak mempunyai struktur ideologi yang kokoh, dia pun akan miskin dan mati sendiri karena pada titik tertentu tidak akan bisa mengatasnamakan cabang lagi. 3] Lembaga berubah fungsi, dari lembaga perkaderan ke lembaga kekaryaan, tidak punya idealisme, kosong teleologi. Ideologi hanya jadi artefak yang dikicaukan setiap perkaderan baku-formalistis.Sedangkan konsekuensi eksternal dari kondisi ini, adalah: 1] Kader yg sudah gak punya kemampuan memahami dan menyinkronkan pikiran-sikap-tindakannya sebagai bagian tak terpisahkan dari lembaganya mustahil mampu melihat-membaca-mengerti-merespon-bertindak atas segala persoalan eksternalnya: kebangsaan dan kemanusiaan global. Mereka tumbuh sebagai cendekiawan elite yang sibuk mengalkulasi penderitaan rakyat dari menara pinang. 2] Lembaga yg sudah mandul, gak bisa bereproduksi, berubah bentuk sebagai kumpulan aktivis harakah sempalan, perusahaan, dan wastafel pencuci muka di hadapan penguasa yang “kebetulan” seniornya sendiri. Sengaja ditulis pake kutip, karena jarang banget yang tampil pede berhadapan muka dengan senior dari lembaga/organ lain. Apalagi yg beda agama. Tengsin. 3] Negara akan dilihat sebagai keluarga, yang menimbang problem bergantung pada kompromi dan posisi tawar. 4] Tapi, karena kader secara alamiah adalah mereka yang memegang posisi penting di lembaga intra kampus, watak ini akan terus mengekor dan membentuk kepribadian birokrat yang khas made in indonesia, yang permisif, toleran-buta, apatis, acuh, pragmatis, dll.Ideologi adalah fosil pada kelanjutannya, pajangan lembaga akan kegemilangan masa lalu, tanpa perlu diberi makna apa-apa. Bongkar! Ganti! Untuk memberesi masalah ini perlu keberanian dan pemikiran radikal. Setiap gerakan diarahkan untuk melihat persoalan secara mendalam, tidak pada kulit/permukaan saja. Pertama, Kita perlu membongkar semua pemahaman keagamaan yang memperkosa pemikiran kritis kader. Agama berfungsi mempercepat peradaban manusia dan mengisinya dengan muatan transenden, dan karenanya membebaskan. Kedua, Kita perlu membuang semua beban sejarah tentang konsepsi tripleks-diri ke jati-diri, sehingga tidak ada lembaga mana pun yang bebas dari kritik, selama kita punya dalil/alasan untuk itu, termasuk agama formal kita selama ini. Ketiga, Kita perlu mengubah orientasi perkaderan dan pembinaan agar lebih berorientasi pada pembelaan bagi mereka yang tertindas, baik ruhani [pemikiran] dan jasadnya [sosial-ekonomi] sehingga lembaga senantiasa mempunyai ikatan dengan akar rumput yang akan menghasilkan bakal kader. Keempat, Semua bongkaran ini perlu basis filosofis, sebab ideologi bukan sekadar juklak. Di dalamnya bukan hanya sekadar buaian nilai-nilai moral yg abstrak tapi juga mengatur dan mengarahkan manusia menuju terbentuknya komunitas [ummah] yang meniscayakan adanya aturan sistem, hukum yang disepakati bersama [konvensi] dalam transformasi intelektual yang berimbang sehingga tidak ada bias dalam penerapannya. Maka kita dapat mengidentifikasi bahwa pertanyaan umum tentang apakah syariat islam dah bisa diterapkan di indonesia, mengandung kesalahan epistemologis. Pekerjaan rumahAda pekerjaan rumah yang lebih mendasar dari sekadar bikin papan nama bahasa arab dan/atau parpol baru dengan pimpinan cendekiawan ge-er. Berhasil tidaknya transformasi nilai bergantung pada kekuatan dan kesolidan sistem yang mengiringinya (berupa kader sistem perkaderan, dan bahan kaderisasi) yang nanti akan menyimpulkan apakah ideologi yang dibawanya itu sekadar wacana atau memang ideologi.Maka, dalam kerangka sistem, setiap manusia yang gagal mentransformasikan nilainya, dalam bentuk paparan secara rasional dan persuasif, pada komunitas masyarakat lain yang berbeda paradigmanya boleh disebut sebagai ideolog gagal. Sampai kapan pun dia akan selalu menjadi subjek subordinat dari sistem yang lebih besar.Indonesia adalah pasar bebas ideologi, asal tidak bikin ribut dengan tetangga, menjaga ketentraman kampung, dan tidak membawa parang ke mana-mana. Setiap organisasi ideologis selalu memanfaatkan setiap ruang publik agar mereka bisa memaksimalkan kuantitas komunitas. Namun, setiap aliran pemikiran/teologi yang basis filosofisnya ringkih, tidak akan mampu untuk melakukan objektivikasi. Ruang publik yang berhasil dikuasai cenderung dijadikan ruang privat, sekadar pengumpulan jamaah, tidak ada lagi pertukaran ide yang cerdas-rasional dan terbuka. Meski demikian, karena sistem perkaderan yang ketat, solid dan konsisten, mereka tetap bisa melanggengkan kekuasaannya tanpa hambatan. Betapa pun lemahnya basis pemikiran mereka, selama terorganisir dengan baik maka akan menghasilkan hasil yang signifikan, visi dan misi mereka akan sukses. Sebagaimana kata hadis, “Kejahatan yang terorganisir akan dapat mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir.”[andito] 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: