jump to navigation

Gerakan Mahasiswa, So What Gitu Lo? Januari 29, 2008

Posted by anditoaja in Politik.
trackback

greekdemo.jpg 

“Setiap individu harus memilih apakah ia akan bergerak maju bersama sejarah serta mengakselerasi langkahnya dengan kekuatan ilmu pengetahuan. Atau tinggal masa bodoh, menjadi egois dan oportunis di hadapan sejarah, dan dilindas oleh sejarah.” (Ali Syariati)

 

Mahasiswa adalah kelas sosial di masyarakat yang mempunyai konotasi religius, moralis, intelektual, dan humanis. Kelas ini unik karena menghubungkan dimensi ketuhanan, yaitu MAHA, yang inheren dengan makna Yang Mutlak, Kebenaran Absolut; dan kemakhlukan, yaitu SISWA, sosok manusia pembelajar, sebuah perilaku dinamis untuk menyempurna yang senantiasa dinamis, bergerak. Lagipula mahasiswa adalah manusia, dan manusia adalah makhluk material, dan sifat materi adalah bergerak. Jadi “mahasiswa” adalah sebuah entitas makhluk Tuhan yang terus bergerak karena sifatnya sebagai manusia pembelajar.

Sebagai satu-satunya makhluk Tuhan yang “maha”, tugas dan tanggung jawab mahasiswa lebih berat daripada makhluk sosial lainnya. Dia diberi mandat oleh Tuhan untuk menyuarakan kebenaran, karena Tuhan adalah Sang Kebenaran. Mahasiswa menatap realitas sosial dengan sikap:

1] kritis, karena realitas sosial bisa jadi adalah hasil konstruksi kekuasaan; 2] rasional, karena realitas sosial harus disikapi dengan nalar rasional, bukan reaktif-emosional; 3] independen, karena menyikapi segala realitas sosial harus tanpa beban beban sejarah, ewuh pakewuh karena patronase dan primordialisme.

 Mahasiswa dan negara

Di sisi lain, sebaliknya, “siswa”-nya sebagai nama otonom menunjukkan bahwa nilai-nilai pengetahuan, kebenaran dan moralitas yang dia peroleh tak lepas dari konstruksi kekuasaan. Lembaga pendidikan tempatnya menimba ilmu punya beban moral dan material sehingga tak lepas dari pesan-pesan negara sebagai payung struktur formal.

Itulah kiranya mengapa kampus penuh dengan slogan percepatan kuliah, tugas makalah, praktikum yang mendisiplinkan olah pikir mahasiswa. Padahal mahasiswa juga berhak bolos 20-25% dari total tatap muka, berhak mencari pacar di fakultas tetangga, aktif di dunia sosial-kemasyarakatan-politik dan bahkan berhak mendelegitimasi lembaga pendidikannya sendiri.

Selain itu, mahasiswa berasal dari rakyat yang mapan, representasi ibu-ayah taat pajak yang berharap anaknya kelak dapat memperbaiki nasib mereka atau menerangkan mengapa takdir Tuhan semakin aneh. Bagi orangtua kita, tarif listrik, air, BBM, pendidikan, kesehatan yang meninggi, tidak bisa dipahami oleh akal sehat, kecuali lewat senandung zikir.

Maka, mahasiswa adalah mediator rakyat terhadap segala bentuk kebijakan dan praktik kekuasaan negara. Rakyat, ortu kita itu, tidak bisa diharap banyak untuk dapat mengawasi negara. Jadi, mahasiswa adalah kelas menengah tercerahkan, mediator rakyat kebanyakan dan negara, hasil seleksi dari suatu komunitas masyarakat urban.

 

Generasi Anak Haram?

Lalu, apakah dengan demikian mahasiswa otomatis suci? Potensi revolusionernya, mungkin. Dengan segala harapan dan mitos yang mengelilingi mereka, perilaku mereka menjadi
“elitis” dan “ilmiah”. Lepas dari jelas tidaknya pandangan-dunia mereka.

Sebagai misal, perkelahian (massal) pelajar disebut ikatan group dan nakalnya anak muda. Setelah jadi mahasiswa, sasaran beralih ke polisi dan disebut sebagai wujud “radikalisme dan militansi mahasiswa”. Kalau pelajar bonyok disebut sial. Kalau mahasiswa bonyok disebut berani, resiko perjuangan. Kalau pelajar dapat nilai jeblok, disebut bodoh. Bila mahasiswa harus mengulang mata kuliah berkali-kali, belum tentu disebut bodoh, karena bisa jadi dia itu aktivis. Jadi, kadang agak bias antara demonstrasi karena sikap peduli rakyat, atau emoh kuliah, atau pengen gaya aja. Masak sih, udah mahasiswa belum pernah demo dan kena gas airmata?

Apakah pada praktiknya nilai-nilai idealisme terintegrasi dalam tubuh aktivis mahasiswa atau tidak, perlu kita kritisi. Artinya banyak faktor yang membuat mahasiswa seperti itu. Sistem percepatan kuliah produk propaganda rektorat agar kampusnya bisa dicap, mengikuti perspektif Foucault, sebagai lembaga disiplin tubuh yang bonafid; fenomena elit penguasa untuk menumpulkan kritisisme; tradisi keluarga yang stres kenapa anaknya tidak lulus-lulus juga, dan gurita kapitalisme global yang lebih menyukai tipe mahasiswa taat dan profesional-siap menjadi boneka pabrik, yang kudu link and match dengan dunia hasil rekayasa korporasi transnasional dan negara. Sudjoko menyebut fenomena ini sebagai “kebudayaan loyo”.

Apakah mahasiswa sekarang adalah pewaris zaman kini? Kita lihat saja perjalanan karir kaum muda pada masa lalu. Pada masa 1905 ada momentum melawan pedagang peranakan; pada 1908 ada kesadaran pengetahuan akibat politik etis dalam mengorganisir diri anak sekolahan; pada 1928 ada keinsyafan bersama untuk kumpulan anak daerah; pada 1945 ada momentum merebut kemerdekaan; pada 1966 ada momentum mobilisasi politik efek dari perang dingin; pada 1998 ada momentum krisis ekonomi. Lalu kini, setelah 10 tahun reformasi?

Lihat tubuh subur mahasiswa. Badan mereka membesar dan dewasa, jauh banget dibanding mahasiswa era baheula, tapi itu akibat suntikan hormon, ekstraksi multivitamin dan terbiasa memamah burger dan french fries di fastfood restaurant. Tidak alamiah dan serba instan.

Mereka juga besar dalam aksi jalanan, sebagai tanda “peduli” pada nasib bangsa (yang sebenarnya adalah hasil lobi antar-senior almamater, birokrat dan organisasinya, juga funding demo). Jalanan rame, tapi penuh retorika kosong, emosi labil, miskin ide orisinil. Suka ngomong revolusi dan pakai bros Che Guevara di mal-mal dan kafe, tanpa ngerti paham betul apa itu “revolusi, kapitalisme, dan borjuasi”. Pokoknya funky, asal beda dengan sikon sosial-politik sekarang, itulah revolusi. Omongan sosialis, otak kapitalis. Absurd banget. [lihat tabel]

 

Mahasiswa: suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan…kah?

Maka tidak salah bila rakyat tidak mengerti omongan mereka. Sebab mereka bukan lagi berasal dari rakyat, melainkan jongos elit. Kalaulah mereka sempat menjadi aksesoris sebuah perubahan sosial, tiada satu pun dari mereka yang mengemuka sebagai ideolog. Mereka bisa gaul dan tidur bareng dengan penduduk tapi tidak menyentuh hati dan paradigma rakyat, melainkan sekadar mengubah dan menambah bentuk material.

Tapi lain soal ketika mendudukkan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat dan kaum tertindas. Mahasiswa yang jauh dari massa rakyat berarti jauh dari hati, semangat, bahasa dan penderitaan bangsa. Kita bisa kalkulasi seberapa banyak mereka fasih bicara soal tetek bengek kenegaraan ketimbang problem riil rakyat. Mengapa? Karena bicara kebijakan pemerintah adalah bicara kursi yang mempengaruhi periuk nasi elit.

Kemampuan berbicara tentang struktur yang tidak ditopang dengan praksis hanya memproduksi aktivis salon, manekin solek dan penumpulan rasa. Kalaulah muncul kesadaran tentang penderitaan rakyat, itu temporer. Sama seperti masturbasi, kenikmatan sesaat hasil manipulasi kesadaran. Kenapa? Sebab tidak mungkin membela rakyat sambil asik makan Indomie, notabene menghidupkan satu orang konglomerat, sedangkan sebagian besar rakyat menggantungkan hidup pada padi-gabah-beras?

Padahal kandungan nasi jauh lebih bergizi dan sehat ketimbang sebungkus indomie. Harganya juga lebih murah kok. Makan nasi menghidupkan ekonomi rakyat. Sedangkan makan indomie hanya menghidupkan satu konglomerat dan memperbanyak orang melarat. Tapi adakah mahasiswa sekarang yang dapat menanak nasi?

 

Dilema mahasiswa vis-à-vis negara

Sejak ORBA, mahasiswa belum mempunyai dan atau menentukan agenda bersama yang membuat mereka tidak mempunyai orientasi gerakan. Sebagian besar aktivis masa reformasi langsung mengambil manfaat dengan masuk partai dan struktur kekuasaan lainnya yang menciptakan pengkotak-kotakan. Secara internal ormawa, terjadi ketegangan karena organisasi intra (BEM) lebih murni ketimbang ekstra (misalnya kelompok Cipayung). Dan lepas dari adanya masalah ini, keduanya memang belum mempunyai paradigma yg bisa dibawa bersama-sama. Maka cukup beralasan apabila gerakan mahasiswa disebut quo vadis yang membentuk mahasiswa menjadi mandul, tidak peka terhadap perkembangan eksternal.

Pada wilayah ekskternal mahasiswa, hampir semua pihak yang berkepentingan di negara melihat mahasiswa dalam perspektif kepentingan sesaat, sehingga kecenderungan pendekatan yang dilakukan kepada mahasiswa adalah selama ada kepentingan. Ketika tidak ada kepentingan maka tidak didekati lagi. Mahasiswa dimanfaatkan oleh elite. Hampir semua demonstrasi yg terjadi selama ini sarat dengan kepentingan eksternal. Ketika alumni/murabbi-nya yang di parlemen sudah “berdehem” dan merapat ke kubu presiden, maka serta merta demo menjadi senyap. 

Sebagian kalangan berpendapat secara normatif untuk mengatasi problem ini. Acapkali dikatakan, semua aktivis mahasiswa perlu melakukan pembenahan problem internalnya masing-masing dengan cara mengubah mentalitas aktivis, reorientasi terhadap cara pandang mereka terhadap diri dan lingkungannya. Juga mendefinisikan identitas kemahasiswaannya dan implikasi sosial yang menyertainya serta lingkungan strategis tempat mereka berada. Untuk itu perlu dibangun budaya kritik antar mahasiswa, darimanapun kelompok mereka.

 

Membangun mimpi gerakan mahasiswa

Tiba masanya bagi kita untuk mendekonstruksi paradigma dan sikap kosong seperti ini. Kesalahan terbesar mahasiswa adalah malas: mengasah ideologi, berdialektika dengan membaca dan diskusi, menyusun jaringan aktivis, dan membasis dengan rakyat. Ilmu hanya dipahami sebagai wacana an sich, yang dianggap penting untuk UAS. Ilmu bukan dianggap sebagai roh ideologi, bukan dianggap sebagai prasyarat gerakan. Padahal untuk mempunyai ideologi, kita harus mempunyai pandangan-dunia, yang bergantung pada basis epistemologi kita dan bagaimana konsep filosofis kita.

Mahasiswa harus mempunyai kesadaran untuk membawa rakyat pada nilai-nilai transenden yang lebih luhur, lebih dari sekadar perubahan struktural dan material. Buat mereka mempunyai kesadaran kelas. Tugas mahasiswa di tengah massa adalah, seperti kata Nietzsche, “Membuat orang gelisah, itulah tugas saya.”

Namun sebelum sampai tahapan tersebut, mereka harus sabar membina diri menguatkan konsep berpikir-berdialektika-beraksi mereka. Janganlah berkoar-koar soal negara dan dunia pabila kita tidak mau sedikit mengeluarkan keringat untuk mengasah logika dan memperkaya pisau analisa dengan banyak membaca buku dan berdiskusi.

Apabila seseorang menetapkan bagi dirinya sendiri untuk mengadakan reformasi masyarakat dan mempengaruhi suatu perubahan sosial dalam masyarakat, maka ia harus berbeda dengan rakyat biasa. Ia tidak boleh memiliki kelemahan-kelemahan rakyat biasa. Kata sebuah hadis dikatakan: “Orang yang hendak menjadi pengurus rakyat, haruslah pertama-tama mendidik dirinya kemudian mendidik rakyat. Seorang guru atau pelatih diri sendiri lebih mulia dari seorang guru dan seorang pengurus bagi orang lain”. Revolusi bukan jamuan makan malam.

Selain itu mereka juga perlu mendekatkan diri dengan realitas masyarakat sebagai asal dan tujuan mereka menimba ilmu. Dari sana mereka baru bisa menjadi titik api, yang berfungsi sebagai sumber kehidupan yang membakar, mencerahkan dan menggerakkan rakyat. Merekalah api itu sendiri. Mereka seperti cahaya, terang dengan sendiri dan menerangkan segala sesuatu [massa] di luar dirinya. Sehingga mereka [rakyat] punya nilai. Satukan jari jadi kepal, LAWAN! [andito]

Komentar»

1. Papa Reza - November 12, 2008

Be the first. Again.
Mahasiswa emang cuma bisa mimpi dulu. Kalo gak ada mimpi, gak akan ada harapan juga. Jadi, biarkan aja mahasiswa bermimpi dulu. *padahal saya juga masih jadi mahasiswa, makanya baru bisa mimpi aja, dan ngeliat realitas sosial cuma dari menara gading*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: