jump to navigation

Dari Ego Insani Menuju Ego Ilahi Januari 29, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

13ghosts.jpg “Satu-satunya tenaga ampuh yang akan dapat melawan sebab-sebab kemerosotan dalam suatu bangsa, ialah dengan membentuk individu yang berkepribadian. Individu-individu yang demikian itu sudah dapat menyatakan arti hidup yang sesungguhnya. Mereka membukakan cara-cara baru yang membuat kita mulai melihat, bahwa lingkungan kita bukan sesuatu yang suci dan tak dapat diganggu-gugat, melainkan masih perlu diperbaiki.” (The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Bab 6) EKSISTENSI manusia adalah proses yang sinambung, sebuah realitas yang terbuka; dan bukan suatu sistem yang mapan, determinis (Bergson), realitas yang selesai, dapat didefinisikan dalam kerangka nalar, bagian dari hukum alam dan perulangan peristiwa yang abadi (Nietzsche) dan historis tertentu (Marx). Pada tatanan alam, perkembangan diri manusia berkembang dari diri ke diri. Ia bergerak dari diri yang rendah dan lemah ke diri yang kuat dan tinggi. Sebagai makhluk material yang bersifat dasar dinamis, manusia terus bergerak, berubah, menyempurna, dari potensial ke aktual, dari tidak sempurna ke Mahasempurna, dari makhluk ke Khalik. Oleh karena itu penyimpangan setiap maujud dari jalur kesempurnaan dan perkembangannya merupakan penyimpangan dari diri ke bukan-diri (diri palsu). Adalah mustahil manusia mengenal dirinya sendiri (ego) dan mengetahui dirinya dengan melihat dirinya sendiri yang terpisah dari Sebab keberadaannya (Mahaego). Imam ‘Ali bin Abi Thalib mengungkap fenomena ini dengan mengatakan: “Aku heran pada orang yang mencari karena kehilangan sesuatu namun tidak memperhatikan untuk menemukan dirinya yang hilang.” Ringkasnya, pengetahuan diri tidak terpisah dengan pengetahuan Tuhan.Namun, kesadaran ini tidak menetap permanen. Fatamorgana hegemoni struktur alam-manusia dalam paradigma material memerangkapnya dalam kesadaran palsu. Manusia merasa telah mengenal dirinya, tapi sebenarnya asing. Alih-alih mengikuti sifat alami kemanusiaannya yang dinamis dan terus berubah, struktur kesadarannya berubah total menjadi makhluk yang statis dalam struktur ego, hidup dalam lingkungan mitos, jumud dalam berpikir, berjiwa intovert, pasif dalam bersikap. Dalam skala kolektif, ketidaksadaran seperti ini jamak hinggap dalam setiap kerangka pikir bangsa terjajah. Mereka memandang semua kejadian di alam ini sebagai suratan takdir yang harus dijalani, tidak punya semangat kolektif antarumat manusia, inferior kelas. Terjalinlah kerjasama antara penindas dan yang tertindas. Kebebasan insani digadai demi keberlangsungan dan kelanggengan sistem kolonial. Penggerusan eksistensi dijalankan melalui sistem pendidikan yang mencetak manusia siap-pakai. Kemakmuran material pribadi dipertentangkan dengan semangat perlawanan kolektif insan terjajah. Penjajahan telah membasmi secara materi siapa yang ditaklukkan dan membinasakan ruhani penghisapnya. Manusia dilahirkan untuk menjajah manusia lainnya yang lebih lemah secara ekonomi-sosial-budaya. Homo homini lupus. “Agama” tidak lagi memberi kekhasannya kecuali sebatas petanda etnis dan pelebar jurang ekonomi-sosial-budaya. Tidak heran mengapa orang yang bijak dalam urusan ruhaninya (saleh ritual) jahil dalam urusan dunia (saleh sosial). Untuk membangkitkan perlawanan atas segala eksploitasi kemanusiaan, yang bersangkutan harus menyangkal mental terjajah yang telah menjadi saripati dirinya. Moralitas budak dienyahkan dan moralitas merdeka dieksiskan. Moralitas manusia yang sebenarnya bersifat terbuka, menciptakan nilai dan tidak terikat pada “norma” tradisional dibangkitkan kembali, diaktualisasi dan digerakkan dalam sebuah pergerakan rakyat semesta. Manusia menciptakan nilainya sendiri. Al-Quran memandang manusia sebagai pilihan Tuhan, khalifah Tuhan di atas bumi, dan suatu pribadi yang merdeka, yang diterima dengan menginsyafi risiko yang akan ditanggungnya. Kebebasan Kehendak-Nya menciptakan kebebasan kita, dan Perintah-perintah-Nya dibangun di atas kebebasan kehendak dalam diri kita. Karenanya, tugas yang dihadapi seorang Muslim modern adalah tak bertara. Dia harus memutuskan kembali keseluruhan sistem Islam tanpa sepenuhnya memutuskan hubungan dengan masa lampau. Untuk kembali kepada ajaran Islam, seorang Muslim harus mengubah paradigma eksistensialismenya sebagai co-creator Tuhan di dunia; yang tanpanya malam ciptaan-Nya tiada guna tanpa pelita buatannya. Aktivitas manusia adalah wujud pujian kepada Tuhan. Kita layak mengabdi sebagai budak kepada manusia yang memuja dirinya; dan melihat Tuhan dalam cahaya pribadi.Membela yang benar dan menegakkan keadilan adalah tugas seorang khalifah, amanat al-Haqq, Sang Wujud Mutlak, refleksi peneguhan bahwa ke-ada-an adalah hakikat eksistensi. Meskipun dalam realitas material melawan kejahatan adalah manifestasi peneguhan bahwa kemunkaran adalah ke-tiada-an kebaikan, yang non-eksis mutlak, dan karenanya harus dimusnahkan. Dalam rantai wujud, kejahatan adalah pengejawantahan kesempurnaan-Nya. Maka dalam diri seorang insan kamil, seluruh nama Tuhan teraktualkan adalah harmonis, bukan kontradiktif. Dia menjadi saksi dan bukti hidup dari Realitas Tunggal.Dalam konteks ini, dunia, alam transiensi yang tidak sempurna, adalah panggung penggemaan asma Tuhan, di mana salah satu nama-Nya adalah al-Syahid. Menurut Syahid Muthahhari, dalam masyarakat dunia yang selalu harus menyempurna terus, syuhada adalah lilin-lilin yang membakar dirinya hingga meleleh dengan Api Kebenaran Cinta Ilahiah dan menerangi masyarakatnya dengan Cahaya Cinta Ilahiah; Cahaya Kebenaran Mutlak. Kata ‘Ali Syari’ati, terdapat banyak perbedaan antara ritus-ritus islami dan non-islami. Bahasa-bahasa Eropa dan Barat mengartikan syahid (martyr) adalah orang yang memilih “mati” sebagai pilihan tunggal demi membela keyakinan-keyakinannya terhadap musuhnya. Namun, kata-kata “syahadah; bangkit bersaksi”, yang terdapat dalam kultur islami, khususnya kultur Syi’i, guna mengungkapkan orang yang telah memilih mati, punya makna yang sangat berbeda dengan kata Barat, martyrdom. Martyr (syahid) berasal dari dasar Islam, ialah “berkorban dan bersaksi”. Jadi, syahadah bukan berarti mati, tapi, pada hakikatnya, bermakna “hidup”, “bukti” dan “bersaksi”.Insan kamil adalah eksistensialis yang bersyahadah. Syahadah adalah suatu keadaan pencapaian tahap fana, yakni melewati kehendaknya sendiri yang fana dan kemudian mencapai baqa (bersemayam dalam Kehendak Allah Yang Kekal). Allamah Thabathaba’i menulis dalam Light Within Me: “orang-orang yang terbunuh di jalan Allah adalah mukhlashin. Mereka tidak akan dihisab. Mereka diselamatkan dari kengerian Hari Pengadilan. Mereka telah mencapai kehidupan abadi sebagai hasil perenungan, peniadaan-diri, amal-amal dan ketaatan terus menerus pada Kebenaran Mutlak. Mereka telah melewati hisab dan pengadilan dan sebagaimana mereka telah terbunuh di jalan Allah, mereka memperoleh rezeki dari Tuhannya.” Tahapan ini pada realitasnya tidak asal jadi. Bahaya satu-satunya yang dihadapi ego dalam mencapai ilahiah adalah kemungkinan diistirahatkannya kegiatan karena tenggelam dalam ekstase spiritual yang mendahului pengalaman tingkat akhir. Tujuan akhir ego adalah bukan “melihat” sesuatu, tetapi “menjadi” sesuatu. Inilah hal yang banyak menadirkan semua klaim kegirangan mistikus, yang lebih suka berkutat pada jubah, bukan isi. Atau dalam bahasa seorang mistikus: “Ketanpabentukan (formlessness) adalah sebelum pecinta lebur dalam Tuhan. Maka, seluruh keyakinan adalah hijab. Bagaimana mungkin aku menjadi pecinta?” [andito]  

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: