jump to navigation

Pluralisme Januari 11, 2008

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

pluralism.jpg

 

 

 

 

Pemikiran manusia terbatas sebab indera sebagai alat memperoleh pengetahuan terbatas. Sehingga konsepsi mental tidak sesuai dengan realitas yang dicerap manusia. Bahasa yang digunakan manusia untuk menggambarkan konsepsi mentalnya juga terbatas. Realitas tereduksi pada huruf dan pendengar hanya mendengar berdasar latar belakang pengetahuan dan inderanya yang terbatas pula. Lagipula transmisi pengetahuan pada ranah publik sangat mungkin bias kepentingan.

Kalaulah pemahaman tentang sebuah realitas saja demikian terbatas, apalagi pemahaman tentang Tuhan, Realitas Tunggal tidak terjangkau dan terbatas? Konsepsi kita tentang Tuhan berikut perangkat simbol agamanya terbatas pada konsepsi rasional manusia, indera manusia, teks yang manusia cerap, agamawan yang punya keyakinan dan tendensi politik tertentu.

Ketika agama yang membawa simbol kebenaran hadir dalam sejarah, maka teks pun tercampur dengan konteks kultur setempat, mitologi rakyat dan setting kekuasaan masa itu. Maka keberagamaan adalah cita rasa kultural, senantiasa berdialektika dengan rempug kewargaan, tergantung bagaimana kita mau memandangnya.

Maka di antara kalangan penghayat agama, muncullah orang-orang yang bergerak dengan intonasi yang berbeda. Mereka mengatakan bahwa baju kebudayaan agama jangan sampai menjadi pembeda kemanusian kita. Apa yang kita kenakan, meski dengan beragam model agama, pada dasarnya adalah sama dan sejajar. Terminal yang kita tuju sama meski halte agama kita berbeda jarak dan modelnya.

Namun nuansa relativisme dalam pemikiran di atas yang acap disajikan oleh kalangan modernis dan aktivis dialog agama-agama tidak aman kritik. Yang paling tersengat jelas ulama konservatif, sekelompok agamawan yang dicirikan dengan referensi klasik dengan sandingan minim ilmu-ilmu sosial. Mereka mengatakan bahwa kontekstualisasi agama sangat tipis jaraknya dengan pendangkalan agama. Mereka khawatir bahwa pesan-pesan agama dan pengalaman iman yang sangat khusus dan spesifik, sehingga memerlukan dasar pemahaman tertentu pula, karena telah dipopulerkan sedemikian rupa menjadi kering, terlalu gurih, sehingga lenyap makna esensialnya.

Kalangan konservatif ini mengatakan betapa berbahayanya menyinggung keabsolutan Tuhan tanpa mempunyai basis filosofis yang jelas sehingga menerabas prinsip-prinsip rasional yang telah mapan dan menjadi dasar bagi semua pemikiran manusia. Tanpa menembus dan memporak-randakan klaim privat superioritas agama tertentu, dialog agama tetap bisa dibangun. Bila tidak, bisa jadi yang terbentuk adalah sinkretisme iman. Tidak ada agama yang baku, melainkan agama campur sari, yang tidak berjenis kelamin, yang tidak menjadi milik siapa-siapa. Padahal, realitas identitas memustahilkan adanya bentuk sinergi agama seperti itu, melainkan sekadar membenarkan kelahiran agama baru, tentu dengan konsep-konsep yang baru pula, namun mereka tidak boleh membawa simbol agama lama yang telah mempunyai merek dagang tertentu.

Pada tataran inilah dialog antara agamawan modernis dan konservatif menjadi penting. Dialog agama bukanlah komunikasi negatif yang saling meniadakan. Banyak hal yang dapat diperoleh dari dunia yang lain, fenomena yang beragam, sehingga penampakan yang bikin paranoid membuat kita semakin kaya referensi dan pengalaman. Masalahnya adakah bukan pada kesiapan untuk melintas batas (passing-over) atau tidak, melainkan kerangka dialog yang dibangun, lingkup bahasan dan terminal dialog ini yang diharapkan bisa menjadi empati bersama. Sehingga akan dapat disimpulkan, apakah dialog ini saling membinasakan ataukah membangun?[andito]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: