<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>andito aja</title>
	<atom:link href="http://anditoaja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anditoaja.wordpress.com</link>
	<description>akumulasi manifestasi basi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Dec 2009 01:07:51 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='anditoaja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/77377f9ecf650d41f38fd866ff808051?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>andito aja</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://anditoaja.wordpress.com/osd.xml" title="andito aja" />
		<item>
		<title>Lembaga Penghisap Buruh</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/12/08/lembaga-penghisap-buruh/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/12/08/lembaga-penghisap-buruh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 01:07:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buruh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[
”Semoga Tuan bisa menyuarakan penderitaan kami.” Suaranya tercekat. Nampak benar ia lelah hati dan traumatik. Terbayang kembali peristiwa-peristiwa sial yang dialaminya. Terlibat dalam agenda aksi, namun dipolitisir oleh lembaga perburuhan yang biasa mendampinginya.
Larangan istrinya, yang ke sekian kali, agar ia tidak terlibat dalam serikat, tidak digubrisnya. Ia sadar aktivitasnya bisa berujung (kembali) kepada PHK. Atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=318&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.indypendent.org/wp-content/photos/work3.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-319" title="work3" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/12/work3.jpg?w=130&#038;h=150" alt="" width="130" height="150" /></a></p>
<p>”Semoga Tuan bisa menyuarakan penderitaan kami.” Suaranya tercekat. Nampak benar ia lelah hati dan traumatik. Terbayang kembali peristiwa-peristiwa sial yang dialaminya. Terlibat dalam agenda aksi, namun dipolitisir oleh lembaga perburuhan yang biasa mendampinginya.<span id="more-318"></span></p>
<p>Larangan istrinya, yang ke sekian kali, agar ia tidak terlibat dalam serikat, tidak digubrisnya. Ia sadar aktivitasnya bisa berujung (kembali) kepada PHK. Atau jenjang kariernya yang diabaikan oleh manajemen. Tapi nurani untuk membela nasib sesama pekerja membuatnya menerima tawaran bergiat (kembali) dalam program organisasi (serikat) buruh/pekerja bersama lembaga perburuhan itu. Ia hanya berharap, aktivitasnya tidak lagi dipolitisir oleh sang aktivis.</p>
<p>Pengalamannya bergaul dengan aktivis buruh memberinya banyak pelajaran. Tidak semua aktivis buruh memahami perburuhan atau memperjuangkan nasib buruh. Tidak jarang di antara mereka saling sikut demi (lebih) mengeksiskan organisasi atau dirinya sendiri. Tidak sedikit pula yang menjadikan organisasi buruh sebagai batu loncatan karir ke kursi menteri negara atau komisaris BUMN.</p>
<p>Itulah yang membuatnya sensitif terhadap kata-kata manis aktivis buruh. Dia curiga, di balik rayuan itu terselip agenda politik pribadi sang aktivis. Ujung-ujungnya, dia kembali menjadi ampas organisasi.</p>
<p>Lambat laun ia dapat memetakan karakteristik aktivis buruh. Di balik misi pemberdayaan buruh, tercuat sebuah agenda pribadi yang sama busuknya dengan misi korporasi.</p>
<p><strong>Jualan berita buruh.</strong> Menjual isu buruh adalah ladang ekonomi tersendiri bagi sebagian aktivis buruh. Isu tersebut tidak mesti berasal dari hasil penelitian lembaga mereka sendiri. Kadangkala, berita koran diblow up sedemikian rupa sehingga terkesan bombastis. Mereka pun tidak malu mengklaim angka-angka penelitian yang diperjuangkan oleh organisasi/lembaga lain.</p>
<p>Mereka berkubang dalam jaringan media dan beraktualisasi dari seminar ke seminar di hotel-hotel mewah. Paparan teori dan analisa angka muncul di sana-sini, dramatis dan provokatif. Tapi jangan tanya apa buruh yang di akar rumput mengenal mereka. Atau, apakah mereka juga merasakan kultur buruh, denyut nadi di dalam bilik pengap kamar/rumah buruh. Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu: Buruh itu data, dan data itu uang.</p>
<p><strong>Jualan kasus buruh.</strong> Mereka menyisir komunitas buruh, mencatat dan menghimpun semua problematika buruh. Bekal itu mereka jadikan dasar program pemberdayaan dan advokasi. Alih-alih mencari solusi terbaik yang pro buruh dalam konflik hubungan industrial, mereka mematangkan kasus yang ada menjadi sebuah aksi massa.</p>
<p>Kepada buruh, mereka menjanjikan kemenangan. Semudah bukti-bukti tekstual tentang pelanggaran yuridis perusahaan. Mereka arahkan buruh untuk demonstrasi, mogok dan melambatkan kerja. Tapi mereka tidak mengalkulasi dengan sepenuh hati. Bahwa perusahaan punya nafas lebih panjang untuk bermain rally, mengombang-ambingkan kasus di Pengadilan Hubungan Industrial yang jelas-jelas memakan waktu, biaya, pikiran, dan keringat. Dan buruh hanya punya modal keringat dengan dana dan waktu yang terbatas. Militansi keburu habis di tengah jalan. Padahal permainan baru dimulai. Serikat tidak cukup modal menghidupi mereka. Dan organisasi buruh tidak peduli bahwa program mereka menumbalkan buruh-buruh.</p>
<p>Lembaga perburuhan hanya sibuk mendata kasus yuridis mereka sebagai porto folio lembaga. Di luar sana, buruh bertarung membingkai takdir buruk mereka pasca pemecatan karena serikat mereka, sudah jelas, hanya menyuplai semangat tanpa logistik memadai untuk keluarga buruh terpecat itu. Mereka menderita, tapi lembaga buruh itu berfoya-foya dengan rupiah hasil negosiasi diam-diam dengan perusahaan. Mereka siap beralih tempat mencari mangsa baru: buruh bermasalah yang mau bermitra dengannya untuk aksi massa lagi.</p>
<p><strong>Jualan keringat buruh.</strong> Mereka adalah aktivis organisasi buruh. Mereka representasi dari segenap massa buruh yang karena ketidakmampuan dalam mengelola, mempercayakan organisasi kepada mereka. Sebagian dari mereka adalah buruh juga, atau mantan buruh. Sebagian lain adalah pemain cabutan. Mungkin karena pengalaman sebagai aktivis mahasiswa/partai yang kemudian ditarik sebagai pengurus.</p>
<p>Amunisi pergerakan mereka berasal dari iuran organisasi (check of system). Alih-alih sebagai struktur delegasi kerja, hierarki organisasi menciptakan kelas sosial baru. Pengurus sangat menikmati kedudukannya dan mempertahankannya selama mungkin. Pikirannya hanya meraup iuran sebanyak mungkin. Program kerja diciptakan sebagai upaya menghabiskan iuran, bukan sebagai tanda pengabdian kepada anggota.</p>
<p>Ia tidak heran dengan watak (manajemen) korporasi yang memang berorientasi meraup profit sebanyak mungkin. Semaksimal mungkin hingga tiada sekoin pun yang disisakan untuk pekerjanya. Namun ia sungguh tidak memahami kok ada (aktivis) buruh yang tega menghisap sesama buruh.</p>
<p>Namun, seberapa pun besarnya rasa kecewanya, ia masih menyisakan sejumput harap bahwa ada leader yang mampu bukan saja mengetahui dan menunjukkan jalan, tapi juga memimpin jalan bagi kesejahteraan buruh. Ia percaya masih ada lembaga yang rela berkeringat-berdarah segala pikiran, tenaga dan dana, turun ke bawah membangun basis massa buruh yang kuat. Leader yang LEADS the way&#8230;</p>
<p>”Semoga Tuan bisa menyuarakan penderitaan kami.” Suaranya terdengar lirih. Ditatapnya lekat-lekat aktivis itu. Ia takut, bila gerakan buruh ini kembali oleh elite organisasi. Ia takut gelap mata dan membunuh si penghisap buruh itu&#8230; [dit/leads]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=318&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/12/08/lembaga-penghisap-buruh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/12/work3.jpg?w=130" medium="image">
			<media:title type="html">work3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dilema Ideologisasi Serikat Pekerja</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/06/04/dilema-ideologisasi-serikat-pekerja/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/06/04/dilema-ideologisasi-serikat-pekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 06:28:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buruh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[
“Workers have the right to form and join unions of their choosing, bargain collectively and go on strike.” (Paul Kersey)
Dalam sebuah hubungan industrial, kesejajaran antara korporasi dan pekerja menentukan kualitas kerjasama dan komunikasi di antara kedua belah pihak. Pekerja yang bermodal lemah (dari sisi konsep, skill, dana, jaringan dan massa) berposisi tawar lemah dan cenderung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=312&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://cope397.sasktelwebhosting.com/Union%20Workers%20Rights%202.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-313" title="Union Workers Rights 2" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/06/union-workers-rights-2.jpg?w=112&#038;h=150" alt="Union Workers Rights 2" width="112" height="150" /></a></p>
<p>“Workers have the right to form and join unions of their choosing, bargain collectively and go on strike.” (Paul Kersey)</p>
<p>Dalam sebuah hubungan industrial, kesejajaran antara korporasi dan pekerja menentukan kualitas kerjasama dan komunikasi di antara kedua belah pihak. Pekerja yang bermodal lemah (dari sisi konsep, skill, dana, jaringan dan massa) berposisi tawar lemah dan cenderung dilemahkan.<span id="more-312"></span></p>
<p>Kesadaran untuk lebih dimanusiawikan dan dihargai secara profesional oleh manajemen memberanikan pekerja berhimpun dalam suatu serikat pekerja (SP). Mereka sadar, gerakan individual hanya berdampak pada perbaikan inividual, belum tentu berefek pada sistem secara keseluruhan. Dalam suatu kondisi, mereka bisa sebagai korban dari kebijakan manajemen.</p>
<p>Korporasi yang peka menyadari peran vital pekerjanya. Demi menghindari citra buruk dan penurunan transaksi bisnis, ia berkenan memberikan reward dan punishment yang baik sesuai dengan klausul-klausul yang tercantum di dalam PKB. Diyakini, peningkatan kesejahteraan pekerja akan turut meningkatkan kinerja, produktivitas, dan keharmonisan di dalam korporasi. (Manajemen yang bertindak represif dalam mengelola psikologi ketakutan terhadap buruh berupah rendah akan dibahas pada tulisan tersendiri.)</p>
<p>Dalam situasi yang mapan dan harmonis, pekerja kembali asik dengan dirinya sendiri. Mereka tidak menganggap SP sebagai sebuah wadah vital komunitas pekerja. SP tak ubahnya pemadam kebakaran yang bergerak hanya ketika ada gejolak di internal korporasi, misalnya besaran bonus. Artinya, gerakan protes SP bukan karena masalah prinsip, apalagi ideologis, melainkan karena kenyamanannya terusik.</p>
<p>Namun militansi mereka hanya bergema di areal korporat. Bila terjadi suatu gejolak di korporat lain, belum tentu SP mapan tersebut peduli, apalagi mempunyai daya tekan sebagaimana yang mereka lakukan terhadap manajemen mereka sendiri. Dalam sistem global, gejolak bisa muncul bukan dari kebijakan manajemen melainkan efek domino dari transaksi global dan sistem moneter internasional. Manajemen yang jeli segera menyikapi SP mapan dengan segera menyesuaikan gaji sehingga tidak sempat menimbulkan riak. Inilah praktik kapitalisme ersatz.</p>
<p>Akhirnya, SP bukan sekadar dituding ‘yellow union’, melainkan kumpulan pekerja elite yang menyimpan kartu truf kebobrokan manajemen dan juga tahu bagaimana memanfaatkan rekan-rekannya yang levelnya lebih rendah. Taktiknya, SP memainkan bahasa diplomasi konseptual kepada manajemen sambil memberikan tekanan bahwa mereka menguasai jaringan pekerja di level operation yang sudah terbiasa memakai otot.</p>
<p>Ketidakmampuan manajemen menjamah karyawan di tingkat operation memudahkan elite SP untuk mengikat ketaatan atas dasar kesetiakawanan, tidak butuh teori nasionalisme, sosialisme, bahkan teks-teks keagamaan. Bila solidaritas buruh (labour) dibentuk oleh rasa ketertindasan dan ketakutan komunal. Maka solidaritas pekerja (employee) dibentuk oleh rasa kesetiakawanan karena menjaga privelese dan kemapanan bersama. Muncullah kelas borjuis kecil (little/petty/petite bourgeoisie), sebuah lapisan semu di dalam korporat antara manajemen dan buruh (level rendah).</p>
<p>Kemudahan material yang didapat oleh pekerja hakikatnya menyimpan bom waktu. Pseudo kemapanan membuat mereka laksana pemilik korporat. Cukup duduk santai saja maka uang akan mengalir tiap saat. Tidak heran, pengurus elite SP kerap menolak disebut sebagai buruh. “Kami bukan buruh, tapi pekerja.” Kesadaran semu semacam ini membuat lagaknya pun semakin borjuis, sesuatu yang kontras dengan status resmi mereka. Borjuis mengacu pada kapasitas individu mengakumulasi usaha mandiri dan mendesain passive income. Sedangkan buruh/pekerja mengacu pada kapasitas individu upahan yang mendesain massive income.</p>
<p>Situasi mapan sungguh meninabobokan namun berbahaya. Ketersediaan segala sesuatu membuat pekerja malas/tidak mau menggali dan meluaskan potensi diri, terutama pada kapasitas ideologi. Sebagai komunitas, pekerja seyogyanya mendalami teori dan aplikasi sosialisme. Setidaknya mengetahui konsekuensi praktis pekerja upahan. Dalam istilahnya, kondisi pekerja mapan seperti tidur. Mereka baru terjaga setelah menua. Ketika dana pesangon dan pensiun yang mereka terima mulai tidak mampu mencukupi segala kebutuhan apalagi keinginan dan gaya hidup mereka. Ketika mereka tidak mampu berbisnis/wiraswasta. Ketika nilai deposito atau hasil investasinya tidak sebesar pengeluaran mereka.</p>
<p>Gerakan pekerja kelas menengah berimplikasi lebih luas daripada buruh marjinal, yang masyarakat awam pun menilai mereka paria. Bukan sekadar perubahan sistem sosial, namun juga struktur politik negara dan bahkan ideologi bangsa. Apa yang kelas pekerja menengah nikmati saat ini sesungguhnya tidak seberapa besar dan penting dibandingkan dengan hasil yang akan mereka nikmati apabila mereka berkesadaran ideologis.</p>
<p><strong>Bukan Sekadar Pertemanan</strong></p>
<p>”The first step in the evolution of ethics is a sense of solidarity with other human beings.” (Albert Schweitzer)</p>
<p>Solidaritas di antara pekerja menengah mesti disokong penuh. Namun gerakan tidak boleh berhenti di sana. Karena nilai-nilai perkawanan, sebaik apa pun ia, tidak akan membawa perubahan sistemik yang lebih luas, apalagi melintas batas-batas kelas sosial. Mungkin di antara mereka tidak menganggap penting sebuah serikat pekerja ideologis. Akan tetapi, apalah artinya hidup bila tidak menggaet pada nilai-nilai universal dan transendental, ketika hidup lebih punya makna (life meaningful). Dan itu hanya tercapai dengan membuat sistem industrial yang berkeadilan, menyebarkan kesejahteraan yang mereka miliki untuk memberdayakan knowledge, skill, attitude, dan belief lingkungan mereka. [dit/leads]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/312/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/312/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/312/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=312&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/06/04/dilema-ideologisasi-serikat-pekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/06/union-workers-rights-2.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">Union Workers Rights 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dirikanlah Negara Islam: Testimoni Seorang Romo</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/05/27/dirikanlah-negara-islam-testimoni-seorang-romo/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/05/27/dirikanlah-negara-islam-testimoni-seorang-romo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 19:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[
Artikel ini pernah aku teruskan ke milis SMA Negeri 1 Bekasi karena menurutku menarik dan layak kita renungkan bersama. Sayangnya ada beberapa tanggapan yang, menurutku, berlebihan/mendramatisir sehingga membelokkan substansi kritiknya. Sebelum aku tanggapi, aku salinkan isi lengkap artikel tersebut:
Dirikanlah Negara Islam: Testimoni Seorang Romo
Dirikanlah Negara Islam
Hayo Dirikan Negara Islam
Segera Dirikan Negara Islam
Tapi&#8230;.
Pastikan dulu gereja bebas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=307&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.jimmypenaart.org/pictures/Dialoque%20with%20a%20protective%20screen-33x30.gif"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-308" title="Dialoque with a protective screen-33x30" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/05/dialoque-with-a-protective-screen-33x30.gif?w=150&#038;h=94" alt="Dialoque with a protective screen-33x30" width="150" height="94" /></a></p>
<p>Artikel ini pernah aku teruskan ke milis SMA Negeri 1 Bekasi karena menurutku menarik dan layak kita renungkan bersama. Sayangnya ada beberapa tanggapan yang, menurutku, berlebihan/mendramatisir sehingga membelokkan substansi kritiknya. Sebelum aku tanggapi, aku salinkan isi lengkap artikel tersebut:</p>
<p>Dirikanlah Negara Islam: Testimoni Seorang Romo<span id="more-307"></span></p>
<p>Dirikanlah Negara Islam<br />
Hayo Dirikan Negara Islam<br />
Segera Dirikan Negara Islam</p>
<p>Tapi&#8230;.<br />
Pastikan dulu gereja bebas didirikan<br />
Pastikan dulu FPI dan FBR dikandangkan<br />
Pastikan dulu penindasan minoritas berhenti<br />
Pastikan dulu pemimpin umat dipenggal kalau korupsi<br />
Pastikan dulu fakir miskin dan anak terlantar diurusi<br />
Pastikan dulu Ahmadiyah dibiarkan hidup dan berkembang<br />
Pastikan dulu kaum homoseksual dipenuhi haknya<br />
Pastikan dulu wanita-wanita kami tak harus memakai jilbab<br />
Pastikan dulu kesempatan politik dan ekonomi merata<br />
Pastikan dulu umat Islam baik pendidikannya<br />
Pastikan dulu mayoritas umat Islam sejahtera</p>
<p>Setelah itu&#8230;<br />
Dirikanlah negara Islam yang rahmatallil alamin<br />
Kami umat Katolik siap menjadi makmum yang setia<br />
Karena toch kami minoritas adanya<br />
Kami tak akan menyebarkan agama<br />
Karena agama kami toh tak lebih bagus dari Islam anda</p>
<p>Tapi perlu diingat, wahai saudara<br />
Bahwa kaum miskin memeluk Katolik bukan karena baiknya Katolik kita<br />
Tapi karena pelayanan saudara Islam yang tak pernah menyentuh mereka<br />
Bagaimana anda mau ngurus negara, ngurus mereka saja tidak bisa</p>
<p>Hayo, dirikan negara Islam Kita<br />
Hukum Islam Anda adalah Hukum Islam Kita<br />
Asal hasilnya Adil dan Sejahtera<br />
Bukan hanya jargon pemilu belaka<br />
Bukan pula hanya sekadar alasan untuk berkuasa</p>
<p>Amsterdam, berdasarkan kisah nyata</p>
<p>[Satrio Damardjati]</p>
<p>+++</p>
<p>Dari banyaknya ’protes keras’ yang mencuat dapat disimpulkan bahwa masalah simbol/judul sebuah keyakinan sangat rentan didiskusikan. Menurutku, semrawut debat ini dikarenakan ’agama’ dibicarakan dalam tiga ranah yang berbeda, yaitu:</p>
<ol>
<li>Agama sebagai nilai-nilai transenden. Dalam ranah ini, semua agama niscya setuju. Misalnya perintah saling menebarkan rahmat, kasih, damai, menyampaikan kebenaran, menerapkan sistem yang adil, peduli rakyat, membela yang tertindas, dll.</li>
<li>Agama sebagai pembumian nilai-nilai transenden. Dalam ranah ini, agama telah mendapatkan definisi dan simbol khasnya, setidaknya harfiah Sansekerta dari ”tidak sesat”. Mulailah klaim penyempitan dan perluasan makna agama. Satu sama lain saling mengklaim kebenaran lembaga agamanya. Akhirnya, aku lebih sepakat bila konsep ini dilekatkan dengan teks ”Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Artinya, terlepas dari klaim masing-masing, juga dialog di internal agamanya tentang batasan ruang keselamatan, setiap pihak hendaknya saling menjaga diri untuk tidak menghina atau mengkritik ajaran agama orang lain. Setiap umat beriman wajib menunjukkan kesalehan sosialnya sebagai buah kesalehan ritualnya. Bagiku, konflik politik-ekonomi atas nama agama dan antar mazhab di masa lalu cukuplah sebagai pelajaran hidup, tidak perlu diaktualkan kembali di negeri ini.</li>
<li>Agama sebagai buah penafsiran kita terhadap sebuah sistem keyakinan. Di sinilah benih konflik memuncak. Pemahaman kita atas sebuah teks atau ajaran, bagaimana dan dengan cara apa ia dipraktikkan sangat mungkin berbeda dengan rekan semazhab atau seagama kita. Tidak hanya itu, ekspresi keagamaan pun kadang bermakna agresi bagi pihak lain. Bila diteliti mendalam, pendirian ormas-ormas keagamaan di negeri ini, awalnya, adalah karena sentimen atas tafsir hukum agama. Untunglah kedewasaan dan keterbukaan informasi pada anak bangsa ini membuat konflik masa lalu antar organisasi keagamaan tidak menurun pada cucu buyutnya.</li>
</ol>
<p>Lalu, bagaimanakah artikel ”Dirikanlah Negara Islam” diposisikan?</p>
<p>Setelah aku baca berulang-ulang, aku kelompokkan artikel tersebut dalam lima bagian: Harapan minoritas, Otokritik, Keinginan bersama (kalimatun sawa/common denominator), Garansi minoritas, Tujuan universal/objektif.</p>
<p><strong>Harapan Minoritas</strong>. Cobalah baca kembali bait-bait di atas. Ada pesan yang jelas dari penulis bahwa di Indonesia Raya ini, ”penindasan minoritas berhenti”. Indikatornya:<br />
gereja bebas didirikan, kaum homoseksual dipenuhi haknya, Ahmadiyah dibiarkan hidup dan berkembang, wanita-wanita non-Islam tak harus memakai jilbab, FPI dan FBR dikandangkan.</p>
<p>Bila dicermati butir-butir tuntutan itu, menurutku, masalah di atas berkenaan dengan supremasi hukum dan kebijakan tata ruang pemda setempat. Prinsipnya, pendirian tempat ibadat akan dimaklumi bila didukung oleh lingkungan. Umat Islam di Jakarta sulit mencari mushalla yang manusiawi di mal. Kalaupun ada, terletak di pelataran parkir, atap gedung, atau sudut bangunan/tangga. Sebaliknya, umat Kristen sulit mendirikan gereja di Madura, Banda Aceh, atau Martapura karena di sana hampir 100% Muslim. Seandainya setiap umat tidak memiliki ’kepekaan budaya’, niscaya rentan konflik.</p>
<p>Sedangkan masalah homoseksualitas bukanlah masalah Indonesia saja. Bagi penganut Katolik dan kaum Republikan di AS, homoseksual masih jadi aib besar. Meskipun legalitas pernikahan pasangan homoseksual meningkat, hal itu tidak mencerminkan pandangan Gereja.</p>
<p>Menurutku, negara Pancasila ini tidak perlu terlalu jauh mengurus eksistensi Ahmadiyah, dan juga agama lokal lain. Meskipun bagiku tidak ada hal yang menarik di Ahmadiyah, bukan berarti mereka layak dienyahkan begitu saja. Demikian pula tentang kewajiban berkerudung hendaknya tidak dijadikan aturan publik. Meskipun aturan menutup kepala ada di semua ajaran Abrahamik. Aturan dan landasan ideologi negara kita yang menurutku menghalangi pewajiban atau provokasi struktural atas penggunaan sesuatu simbol keyakinan tertentu kepada penganut agama lain.</p>
<p>Kita dapat bercermin pada pelarangan dan pembubaran Partai Komunis Indonesia di tahun 1966 untuk pembubaran Front Pembela Islam dan Forum Betawi Rempug. Aku sepakat dengan Franz Magnis-Suseno, misi utama PKI adalah mengganti ideologi negara Pancasila. Nah, apakah FPI dan FBR secara material juga menegaskan ingin mengganti ideologi Pancasila? Bila ’ya’, maka patutlah kedua organisasi tersebut dibubarkan karena dapat membubarkan NKRI. Namun bila ’tidak’, maka polisi hendaknya berani mengandangkan setiap oknum FPI dan FBR yang terbukti melanggar hukum.</p>
<p><strong>Otokritik</strong>. Kita hendaknya jujur bahwa ajaran Islam masih disenandungkan secara simbolis. Dalam ’Nyanyi Sunyi Seorang Bisu’, Pramoedya Ananta Toer, memuji aktivitas lembaga gereja yang banyak membantunya menyediakan alat tulis untuknya dan membantu peningkatan kesejahteraan tapol di Pulau Buru. Apa yang dilakukan oleh lembaga keislaman? Mereka hanya mengirim juru dakwah yang masih belia yang secara intelektual kalah jauh dengan tokoh-tokoh PKI yang terbiasa membaca dan berdiskusi. Mereka hanya berkhotbah, tidak membantu alternatif ekonomi bagi tapol dan keluarganya yang ditinggalkan.</p>
<p>Tidak heran, pasca Gestok, banyak kader PKI yang notabene abangan beralih masuk Kristen. Ini sesuai kata penulis, ”Kaum miskin memeluk Katolik bukan karena baiknya Katolik kita; Tapi karena pelayanan saudara Islam yang tak pernah menyentuh mereka; Bagaimana anda mau ngurus negara, ngurus mereka saja tidak bisa?”</p>
<p>Kita harus mengakui bahwa perilaku ekonomi umat Muslim saat ini masih rendah. Seorang teman bercerita, bahwa masyarakat Tionghoa sudah terbiasa konversi iman, dari Kong Hu Cu/Budha ke Katolik atau Kristen. Namun sangat jarang yang migrasi ke Islam. Mengapa? Stereotipe bahwa menjadi Muslim itu susah hidup, cenderung miskin dan melarat. Umat Islam punya beban sejarah meningkatkan pencitraan kemuliaan dan kebanggaan Islam di hadapan umat lain.</p>
<p>Kita juga mesti berlapang dada bahwa penegakan hukum kita masih pandang bulu. Di mata minoritas non-Islam, slogan penegakan hukum agama hanya mengurus permukaan saja, tidak ke akar masalah. Rakyat sudah muak melihat sandiwara pengadilan yang setengah hati menghukum pejabat publik yang korup, yang banyak beragama Islam dan/atau berasal dari partai Islam. Padahal uang negara yang diselewengkan itu adalah hak fakir miskin dan anak-anak terlantar yang mayoritas juga Muslim. Tentu kita masih ingat penyelewengan dana non-budgeter haji dan tikus-tikus di departemen agama. Mereka, orang-orang Islam itu, membuat sistem sehingga korupsi menjadi biasa dan wajar. Tidak salah kiranya, penulis berkata, ”Hukum Islam jangan hanya jargon pemilu belaka; Bukan pula hanya sekadar alasan untuk berkuasa.”</p>
<p><strong>Keinginan Bersama</strong>. Penulis itu tidak hanya menebar kritik. Ia juga memberikan solusi, bahwa ”Kesempatan politik dan ekonomi merata; umat Islam baik pendidikannya”, agar ”mayoritas umat Islam sejahtera.” Secara implisit penulis menegaskan bahwa kebobrokan negara ini hakikatnya bukan karena masalah agama, melainkan disumbatnya keran partisipasi warga dalam politik dan ekonomi. Rezim Orde Baru menjadikan feodalisme sebagai urat nadi praktik berbangsa dan bernegara. Semua lembaga dan ajaran agama dilemahkan agar tidak menjadi alat perlawanan.</p>
<p>”Mayoritas umat Islam sejahtera” akan berefek pada kesejahteraan bangsa secara keseluruhan. Konflik-konflik antarwarga berkurang drastis karena peningkatan kesejahteraan berbanding lurus dengan peningkatan intelektualitas, emosionalitas, dan spiritualitas. Umat Islam tidak akan mudah diprovokasi. Warga non-Islam tidak merasa diintimidasi. Karena itulah penulis memberikan <strong>Garansi Minoritas/Pesan Damai</strong>: ”Kami tak akan menyebarkan agama; Karena agama kami toh tak lebih bagus dari Islam Anda.” Apalagi sih yang dicari selain kedamaian hidup?</p>
<p>Apabila semua persoalan umat beragama ini sudah didudukkan secara proporsional dan warga non-Muslim merasakan manfaat sosial-ekonominya, maka semua anak bangsa akan setuju dengan <strong>Tujuan Universal/Objektif, </strong>bahwa: ”Hayo dirikan Negara Islam kita;<br />
Hukum Islam Anda adalah Hukum Islam Kita; Asal hasilnya Adil dan Sejahtera.” Dalam ranah ini, konsep dan bentuk negara Islam akan dibela mati-matian oleh warga non-Islam, karena mereka melihat ”Islam rahmat bagi semesta alam.” [andito]</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=307&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/05/27/dirikanlah-negara-islam-testimoni-seorang-romo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/05/dialoque-with-a-protective-screen-33x30.gif?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Dialoque with a protective screen-33x30</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Realitas dan Kesadaranku</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/04/22/realitas-dan-kesadaranku/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/04/22/realitas-dan-kesadaranku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 00:02:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[ 
Socrates: Karena setiap persepsi berkaitan secara khusus dengan keberadaanku, maka persepsiku adalah benar bagiku dan, seperti kata Protagoras, aku adalah hakim segala sesuatu yang memang milikku, yang ada sebagaimana adanya, dan segala sesuatu yang bukan milikku, yang tidak ada sebagaimana adanya (Plato, “Theaetetus”, 160c)
 
Aku adalah aku. Aku adalah bukan selainku. Sampai kapan pun aku tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=302&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB"><a href="http://www.avakesh.com/images/2007/12/31/consciousness.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-303" title="consciousness" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/04/consciousness.jpg?w=69&#038;h=96" alt="consciousness" width="69" height="96" /></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Socrates: Karena setiap persepsi berkaitan secara khusus dengan keberadaanku, maka persepsiku adalah benar bagiku dan, seperti kata Protagoras, aku adalah hakim segala sesuatu yang memang milikku, yang ada sebagaimana adanya, dan segala sesuatu yang bukan milikku, yang tidak ada sebagaimana adanya (Plato, “Theaetetus”, 160c)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB"> <span id="more-302"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Aku adalah aku. Aku adalah bukan selainku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah sama dengan selainku. Inilah prinsip identitas yang kumiliki sejak aku mengada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Aku mengada. Karenanya aku mengetahui dan menyadari keberadaanku. Aku adalah pemilik keberadaanku seutuhnya. Aku adalah subjek yang sadar dengan kedirianku. Aku real, maka aku realistis. Kesadaranku ini lepas dari sebab-sebab material dan kondisi psikologisku. Kesadaran atas realitas inilah yang mengantarkanku untuk menyadari adanya realitas selainku, yang aku sebut sebagai objek. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Awalnya kesadaran tentang diriku sendiri lebih superior daripada selainku/ objek/ realitas lain, sebagaimana juga ada batasan dari selainku untuk memahamiku. Aku tidak terpengaruh dengan nilai dan bentuk apa pun yang terjadi dan dikenakan kepada sebuah gelas yang ada di hadapanku. Aku otonom dan independen dengan segala sistem di luarku yang menilai gelas itu. Dan bagaimana pun gelas tersebut tidak akan bisa memahami diriku sebagaimana aku memahami diriku sendiri. Gelas pun hanya sadar dengan ke-gelas-annya dan otonom dalam memahami dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Namun peningkatan pengetahuan dan kesadaranku tentang selainku meningkatkan perluasan kesadaranku sehingga aku tidak lagi terkungkung oleh wilayah materialku belaka. Perbedaan tingkatan kesadaran ini disebabkan oleh dimensi, ruang, waktu, konstruksi sosial-budaya dan tranformasi informasi tentangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Aku bisa saja menghilangkan eksistensi gelas di hadapanku dengan berkata, “Gelas itu tidak ada”, atau aku menghalangi inderaku darinya atau perasaanku menihilkannya. Dengan peralihan pikiran (baca: tidak perhatian), keberadaan gelas yang tertangkap oleh inderaku bisa saja menjadi tak bermakna. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Namun, realitas gelas tidak berhubungan dengan permainan bahasa, indera, atau psikis semacam di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Gelas yang kuanggap benda mati padat, dalam dirinya sendiri, hakikatnya adalah sebuah benda ‘hidup’ sebagai aku menyadari ‘kehidupan’ diriku. Sebagaimana aku, ia juga bergerak dalam ruang dan waktunya. Hanya saja konsepsi dualis dalam mindaku mengabsolutkan gerak dalam perpsektif (perpindahan) ruang. Hakikatnya gelas itu pun bergerak dalam perspektif (perbedaan) waktu, seandainya aku memaknai gerak sebagai perubahan sesuatu dari potensial menuju aktual. Aku dan gelas senantiasa beraktualiasasi dalam konteks kita masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sehingga, intensitas kesadaran yang optimum menyadariku bahwa pengetahuanku tentang ke-aku-anku dimungkinkan setara, senilai dan identik dengan kesadaranku terhadap selainku/objek lain sebagaimana ia menyadari ke-ia-annya. Kesadaranku adalah kesadaran gelas. Hakikatku dan gelas adalah satu. Misalnya, interaksiku dengan gelas itu bisa jadi lebih intens dibandingkan dengan orang lain di sebelahku bila gelas itu berasal dari soulmate-ku. Tiap melihat gelas itu hatiku merindu hingga materialku turut berubah, misalnya jadi tersenyum atau menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Saat aku mengenakan baju seragam sebuah institusi yang menakutkan, maka keberanianku meningkat tajam. Sudah tidak terukur lagi bahwa kekuatan fisikku tidak seperti yang kutampilkan dan yang orang lain prediksikan. Saat aku mengikuti alur lagu hiphop, maka diriku larut menyatu dengan aliran suara musik itu. Namun semuanya sontak berhenti ketika seragam itu ternyata tidak berpengaruh bagi orang lain dan musik hiphop itu berubah jadi instrumentalia film horor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Dalam hal ini peleburan realitas akan memasuki babak baru. Apakah peleburan aku dan gelas karena unsur materialnya ataukah yang lain? Bila peleburan tersebut sintesa material antara aku dan gelas, niscaya memunculkan split personality dalam diriku karena jiwaku berpindah dari ragaku ke raga gelas. Jiwaku pun tetap labil, karena perubahan material gelas akan berpengaruh secara signifikan dengan kesadaran dan kemelekatanku. Aku bertindak seolah-olah sebagai gelas padahal diriku yang asli berjasad manusia. Bagiku ini mustahil. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Sintesa hanya terjadi pada jiwa ke-aku-an ke ranah ke-gelas-an. Namun secara otonom aku tetap aku dan gelas tetap gelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Karena kesadaran adalah inheren dengan realitas, dan segala sesuatu menyadari dirinya masing-masing maka hakikat realitas adalah hadir manunggal. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Hakikat kesadaranku dengan selainku adalah tunggal. Realitas nampak plural karena indera hanya menjangkau aktualisasinya. Apabila kita meluaskannya, maka fenomena yang dialami gelas mampu kita rasakan pula meskipun di antara kita tidak ada sentuhan material. Jika kita punya ikatan emosi yang kuat dengan orang yang kita cintai, maka apa yang kecintaan kita rasakan akan kita rasakan pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sehingga bila kita hanya memperhatikan pluralitas realitas maka realitas tunggal itu pun gaib. Namun apabila kita memfokuskan diri kepada realitas tunggal tersebut maka pluralitas pun lenyap. Seperti kita perhatikan huruf maka tinta hilang. Sebaliknya, apabila kita memfokuskan kepada tinta, maka huruf pun lenyap dalam pandangan mata. Setiap realitas yang menumpukan kesadaran eksistensi kepada dirinya semata, maka tiadalah realitas lain di dunia ini yang ia lihat. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Fokus pada ke-apa-an suatu realitas menjebak kita pada kesadaran material yang semu. Fokus pada ke-ada-an segala realitas membakar kita pada ketidaksadaran abadi. Seperti laron yang masuk ke api lilin.[andito]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=302&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/04/22/realitas-dan-kesadaranku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/04/consciousness.jpg?w=69" medium="image">
			<media:title type="html">consciousness</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasib Perkaderan [1]</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/04/14/nasib-perkaderan-1/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/04/14/nasib-perkaderan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 06:14:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[
Apakah dunia perkaderan itu sebuah utopia?
“Perkaderan itu masa lalu. Kini saatnya kita fokus kepada kesejahteraan keluarga.”
Aku baru saja bertemu dengan seorang teman lama. Dia kini aktif wira-wiri di beberapa partai besar membuat seminar ini dan itu dengan rekan-rekannya di berbagai instansi dan LSM. Penampilannya sekarang lebih bersih dan terawat. Apa tujuan semua kegiatan tersebut? &#8220;Gini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=300&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.sde.ct.gov/sde/cwp/view.asp?a=2678&amp;Q=320780"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-299" title="alphabet1" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/04/alphabet1.jpg?w=78&#038;h=96" alt="alphabet1" width="78" height="96" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Apakah dunia perkaderan itu sebuah utopia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;font-size:9pt;">“Perkaderan itu masa lalu. Kini saatnya kita fokus kepada kesejahteraan keluarga.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Aku baru saja bertemu dengan seorang teman lama. Dia kini aktif wira-wiri di beberapa partai besar membuat seminar ini dan itu dengan rekan-rekannya di berbagai instansi dan LSM. Penampilannya sekarang lebih bersih dan terawat. Apa tujuan semua kegiatan tersebut? &#8220;Gini aja pak. Daripada dananya dimakan sama elite partai, lebih baik kita jadikan seminar. Syukur-syukur ada peserta yang dapat hidayah dan berubah jadi baik.&#8221;<span id="more-300"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Dulu kita sama-sama aktif mengelola kajian di lingkungan mahasiswa se-Indonesia, sama-sama memaki praktik feodalisme, kapitalisme, militerisme dan oligarki di negeri ini. Seiring perjalanan waktu, kita berdua terpisah oleh kesibukan kantor masing-masing, saling tukar ide pun terputus. Kita bertemu lagi saat ia mengundangku pada sebuah acara dialog publik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Kita membahas dunia perkaderan mahasiswa ketika aku cerita baru saja mengisi sebuah training mahasiswa di Kadungora, Garut. Sobatku ini, yang berhalangan datang karena jadwalnya bentrok dengan seminar pemprov di Pontianak, mengeluh tentang mentalitas para aktivis mahasiswa yang kian rusak. Mereka ingin mudah dan enaknya saja tanpa mau berproses, apalagi berkeringat dan berdarah-darah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Katanya, selama organisasinya tidak dibersihkan dari orang-orang seperti itu, maka mentalitas kader mendatang akan tetap berprilaku instan, pragmatis, dan politis. Betapapun baiknya kurikulum yang ada tetap saja tidak akan mampu menghasilkan kader yang tangguh, profesional, militan apalagi ideologis. Semua materi ‘bagus dan baik’ tidak akan sampai ke tulang sumsum, melainkan tersumbat di tenggorokan saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Dengan semua kondisi ini, ia mengajakku untuk berpikir lebih realistis. “Perkaderan itu masa lalu. Kini saatnya fokus kepada kesejahteraan keluarga. Itu lebih wajib kita urus.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-indent:36pt;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;font-size:9pt;">Batinku bertanya, apakah perkaderan itu bukan realitas? Sejak kapan manusia bisa lepas dari perkaderan? Apakah perkaderan yang dilakukan oleh mahasiswa hanyalah mainan semu yang akan berubah bentuk dan nilainya setelah ia menjadi pegawai atau pengusaha dan merit dan beranak? Ataukah ada miskonsepsi dalam memaknai perkaderan selama ini? Jangan-jangan, munculnya gugatan batin ini karena kita belum merasakan dan melampui ‘kesejahteraan’ itu… [andito]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="EN-GB"><span style="font-family:Times New Roman;font-size:small;"> </span></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/300/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=300&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/04/14/nasib-perkaderan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/04/alphabet1.jpg?w=78" medium="image">
			<media:title type="html">alphabet1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lia Eden</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/18/lia-eden/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/18/lia-eden/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 03:25:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[
 
Don&#8217;t be satisfied with stories, how things
have gone with others. Unfold
your own myth, without complicated explanation,
so everyone will understand the passage,
We have opened you.
(Jalal al-Din Rumi)
 
Beberapa waktu lalu, aku menerima SMS dari seorang teman di Bandung. Isinya isu aku ditangkap oleh polisi.
Segera aku sowan ke Mbah Google. Benar. Aku ditangkap bersama Ibu Lia ditangkap oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=292&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN"><a href="http://images.google.co.uk/imgres?imgurl=http://www.liaeden.info/indonesia/images/stories/bunda_penobatan_kerajaan.JPG&amp;imgrefurl=http://www.liaeden.info/indonesia/index.php%3FItemid%3D34%26id%3D100%26option%3Dcom_content%26task%3Dview&amp;usg=__n5DgdAWSnstIkDQj7dyy3mFTAC4=&amp;h=301&amp;w=200&amp;sz=17&amp;hl=en&amp;start=19&amp;um=1&amp;tbnid=RrEixpzGkilrmM:&amp;tbnh=116&amp;tbnw=77&amp;prev=/images%3Fq%3Dlia%2Beden%26ndsp%3D18%26hl%3Den%26rlz%3D1T4SKPB_enQA245QA254%26sa%3DN%26start%3D18%26um%3D1"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-293" title="bunda_penobatan_kerajaan" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/03/bunda_penobatan_kerajaan.jpg?w=63&#038;h=96" alt="bunda_penobatan_kerajaan" width="63" height="96" /></a></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Don&#8217;t be satisfied with stories, how things<br />
have gone with others. Unfold<br />
your own myth, without complicated explanation,<br />
so everyone will understand the passage,<br />
We have opened you.</span></em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US"><br />
(Jalal al-Din Rumi)</span></p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US"> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Beberapa waktu lalu, aku menerima SMS dari seorang teman di Bandung. Isinya isu aku ditangkap oleh polisi.<span id="more-292"></span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Segera aku sowan ke Mbah Google. Benar. Aku ditangkap bersama Ibu Lia ditangkap oleh </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Polda Metro Jaya dan terancam terkena pasal 156a, tentang penistaan terhadap agama dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun. Sebelumnya, Lia dan aku ditangkap karena telah menyebarkan surat atau dokumen yang berisi pengakuan bahwa dirinya adalah tuhan dan telah menghapus semua agama yang ada di Indonesia. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Tapi itu Andito yang lain. Nama lengkapnya <span style="color:black;">Wahyu <span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;">Andito</span> Putro Wibisono (usia 46 tahun). Sedangkan namaku Andito, hanya 6 huruf, usia masih 35 tahun. Makanya nama blog dan surelku anditoaja demi menghindar dari duplikasi. </span></span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;color:black;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Sambil mengklarifikasi, aku memberikan opini tentang </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">karakter keberagamaan Ibu Lia Aminuddin, terkait komunitas Salamullah/Eden yang dipimpinnya.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Menurutku, pengalaman hidup hakikatnya memperkaya batin setiap orang yang mengalami dan mau mempelajarinya. Pada umumnya, ini terjadi pada orang-orang yang memiliki kondisi hidup yang normal dalam interaksi psikologi sosialnya dan cukup dalam hal kebutuhan material. Mereka yang mengalami suatu kejadian atau fase hidup yang menghujam dan traumatik akan mempunyai karakter dan pemahaman keagamaan yang khas. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Lia Aminudin adalah sebuah kasus yang terungkap dari banyak kasus yang tidak terungkap dan dianggap ‘ganjil’ di masyarakat yang ‘normal’. Aku yakin, dari sekian banyak perjalanan hidupnya yang terekam publik sesungguhnya tersimpan suatu peristiwa hidup yang sangat dahsyat dari sekadar aktivitas formalnya sebagai perangkai bunga. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IN">Himpunan peristiwa hidup tersebut membawanya pada sebuah refleksi yang mendalam. Intensitas pengalaman spiritual yang tinggi berlangsung tanpa disadari atau tidak dihiraukan oleh kalangan sekitarnya. Dalam tahapan-tahapan mistik yang dilihat dan dilaluinya, ia mendapatkan ‘bukti’ tentang posisi spiritualnya yang ia tunjukkan kepada khalayak. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Sayangnya, menurutku, ia tidak punya pondasi filsafat dan logika yang kuat dan sistematis. Apalagi selama proses tersebut ia tidak punya tokoh atau lembaga resmi yang bisa dijadikannya tempat rujukan atau sharing pengalaman. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Sehingga wajar, dalam kondisi masyarakat yang ‘waras’ saat ini, tentu perilaku Ibu Lia menghebohkan, baik bermakna positif bagi yang merasakan karamahnya, dan negatif bagi yang sekadar mendengar isu-isu parsial tentangnya, mereka yang belum pernah mengkaji langsung ajarannya dan apalagi bagi mereka yang berpaham keagamaan puritan materialis ala Wahabi.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Dalam hal ini, aku langsung teringat dengan banyak kisah sufi besar yang dikafirkan oleh masyarakatnya karena keganjilan perilakunya. Dalam masa modern, aku menemukan dalam diri Llewellyn Vaughan-Lee, pemilik the Golden Sufi, sebagaimana yang aku baca dari bukunya “The Face Before I Was Born: A Spiritual Autobiography”. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Llewellyn bercerita bahwa ia sudah mendapatkan pengalaman spiritual yang demikian menyentak sejak usia 16 tahun. Kejadian-kejadian tersebut menjadi alasan bagi orang-orang di sekitarnya untuk menjebloskannya ke rumah sakit jiwa selama beberapa tahun. Setelah ia mulai bisa menata pengalaman-pengalaman mistiknya tersebut, pada musim panas 1995 ia menghadap guru spiritualnya. Katanya, ketika ia mengunjungi gurunya pada musim panas 1995, sang guru menyuruhnya untuk banyak menulis dan ceramah tentang ‘personal spiritual experiences’-nya. Katanya, ‘Until then I had been reluctant to talk too much about my experiences, fearing that the ego might get hold of them.’ Tapi sang guru tetap berkata, &#8220;Orders are orders.&#8221; </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Nah, nampaknya Lia Aminudin mengklaim bahwa pengalamannya tidak berbeda jauh dengan Llwellyin. Bahkan lebih tinggi. Semua yang dilakukannya, menuturkan sebuah rahasia pada masa datang, mengobati orang sakit, menulis puisi, bernyanyi, hingga mencukur seluruh bulu yang ada di tubuh pengikutnya, adalah perintah dari Sang Kuasa. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">Aku tidak punya pengalaman mistik seperti Ibu Lia. Tapi aku mendapatkan penjelasan dari Astrid Darmawan, penulis buku “Al-Quran: The Ultimate Secret”, yang juga murid Llewellyn Vaughan-Lee. Ia juga punya pengalaman mistik yang tidak kalah heboh. Katanya, “Semua hal yang Lia Aminuddin lihat dan rasakan adalah benar, karena aku juga pernah mengalaminya. Memang mahkota, kursi, toga, dan sebagainya yang ia kenakan itu ada di alam sana. Namun ia telah salah menerjemahkan semua simbol yang ia lihat. Menurutku, maknanya tidak seharfiah itu, masih ada yang lebih sesuai.”</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="ES">Lalu, bagaimanakah sikap kita? Sebagai bentuk emansipasi subaltern, tidak ada salahnya bila kita mengakui kehadiran kelompok-kelompok subaltern semacam komunitas Eden. Tidak perlulah kita sok mengoordinasi kapasitas minoritas mereka untuk melebur ke dalam segala aturan sikap dan perilaku hidup mayoritas. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="ES">Secara eksplisit Ibu Lia menyatakan sebuah agama baru, bukan Islam, Kristen, Budha, Hindu dan lain-lain. Sehingga, secara formal tidak ada satu pun agama yang dinistakan. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="ES">Lalu, mengapa masih ada umat beragama di Indonesia masih marah kepada mereka? Mungkinkah karena mereka sebagai Tuhan tidak merasa pernah mengutus Jibril seperti Ibu Lia? </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="ES">Aku bukan anggota komunitas Eden. Hingga saat ini aku </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">masih </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="ES">beriman kepada lembaga Islam-nya Nabi Muhammad saw dalam Ahlulbait version, bukan Muawiyah version. Tapi, melihat kondisi Indonesia yang membosankan seperti ini, tidak salah menjadikan ajaran-ajaran Ibu Lia sebagai alternatif keberagamaan. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="ES">Okelah sekarang mereka dinistakan, dihina, bahkan dibui. Namun bukankah Nabi Muhammad saw juga mengalami masa-masa intimidasi pada awal-awal dakwahnya? Dulu pun agama yang dibawa Ibrahim, Musa, Muhammad, Yesus juga dipandang asing dan dihinakan. Nah, sekarang pikirkanlah baik-baik, bagaimana seandainya ajaran Lia itu benar? Who knows? Mumpung agama baru, fresh from oven, membernya masih sedikit. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="ES">Bila anda take action sekarang, anda punya potensi menjadi sahabat di ring satu. Sehingga 200 tahun mendatang, akan tercetak dalam buku sejarah, “Telah diriwayatkan dari Si Anu, bahwa pada suatu hari pada tanggal, hari, dan jam sekian, di tempat ini, Ibu Lia Aminuddin bersabda&#8230;” </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-US">[andito] </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/292/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=292&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/18/lia-eden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/03/bunda_penobatan_kerajaan.jpg?w=63" medium="image">
			<media:title type="html">bunda_penobatan_kerajaan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pekerjaan Lim</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/16/pekerjaan-lim/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/16/pekerjaan-lim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 07:25:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buruh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[
 
Tadi pagi ia datang ke kantorku. Wajahnya serius. “Ini untuk direkturku. Bacalah.” Katanya seraya menyerahkan sepucuk surat. Isinya pernyataan kepada pimpinan perusahaannya agar mengabulkan salah satu dari dua opsi: Menjadikannya karyawan outsource atau ia mengundurkan diri.
“Puji Tuhan bila kantorku masih berkenan memberiku order editan. Tapi bila ternyata tidak ada, ya tidak apa-apa. Mungkin inilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=287&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"><a href="http://hqjokes.com/pictures/WorstJob.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-288" title="worstjob" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/03/worstjob.jpg?w=93&#038;h=96" alt="worstjob" width="93" height="96" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;color:black;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Tadi pagi ia datang ke kantorku. Wajahnya serius. “Ini untuk direkturku. Bacalah.” Katanya seraya menyerahkan sepucuk surat. Isinya pernyataan kepada pimpinan perusahaannya agar mengabulkan salah satu dari dua opsi: Menjadikannya karyawan outsource atau ia mengundurkan diri.<span id="more-287"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">“Puji Tuhan bila kantorku masih berkenan memberiku order editan. Tapi bila ternyata tidak ada, ya tidak apa-apa. Mungkin inilah jalan yang Tuhan berikan dan mesti kulewati.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Nama aslinya Alim, artinya orang yang berilmu, semacam pandito dalam bahasa Jawa. Namun papanya memotong huruf pertama sehingga namanya cuma Lim. Mamanya pernah bercerita, biarlah proses hidup yang akan mengeksiskan huruf awal itu sehingga namanya lengkap menjadi Alim. Namun karirnya sebagai karyawan selama ini membuatnya merasa tidak alim alias bodoh. “Aku telat sadar. Aku telah salah investasi waktu, tenaga, dan pikiran, yaitu: bekerja pada perusahaan yang tidak pernah menghargai hasil kerja dan masa bakti karyawannya. Namun kesadaran saat ini tetaplah momentum terbaikku,” ujarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Karyawan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Aku kenal Lim tujuh tahun yang lalu. Tepatnya November 2001. Saat itu ia baru hijrah dari Bandung ke Jakarta untuk bekerja di sebuah LSM sosial keagamaan dari Timur Tengah. Di sana ia bertanggung jawab atas divisi penerbitan non-buku, yaitu jurnal dan majalah. Pekerjaan kewartawanan atau jurnalistik ini mengakhiri masa nganggurnya selama dua tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Gaji awalnya Rp 1,4 juta (Nov 2001). Cukup standar pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan bulanan yang memang masih murah. Pada awalnya ia betah dan enjoy saja. Apalagi Pak Bos, begitu ia memanggil direkturnya, sering menasehatinya untuk hidup sederhana dan bekerja sungguh-sungguh. Hanya di sinilah, petuahnya, kita bisa memperoleh pahala dan keberkahan hidup. Bandingkanlah dengan tempat lain jika tidak percaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Pak Bos kerap menceritakan dirinya sendiri yang kerap tidak pulang hingga larut malam karena sibuk bekerja. Oya, jarak pintu rumah dan pintu kantornya hanya 20 meter di lahan dan atap yang sama. Jadi, Pak Bos adalah satu-satunya orang di kantor yang mampu pulang paling lambat dan masuk kerja paling cepat. Luar biasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Sistem Kerja (Atas Nama) Akhirat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;color:black;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN">Dalam sebuah situs, Lim menemukan karakter menarik seorang karyawan: 1) Wake up, eat a good breakfast, and go to work; 2) Work hard and smart for eight or nine hours; 3) Go home; 4) Read the comics, watch a funny movie, dig in the dirt, play with your kids, etc; 5) Eat well and sleep well. Terus dengan nada ngejek, ia katakan, “This is called recreating. Doing steps 1, 3, 4, and 5 enable step 2.” Komentar Lim, posisinya memang seperti itu, tapi sesungguhnya lebih parah lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Waktu terus berjalan. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Bobroknya pengelolaan negeri ini membuat ekonomi berantakan. Harga-harga merangkak naik dengan pasti. Gaji pejabat dan parlemen juga naik dengan gembira. Namun ganjang-ganjing tersebut tidak dirasakan oleh kantor Lim. Gaji Lim dan rekan-rekannya hanya konstan naik 10% atau 100 ribuan setiap tahun, tergantung mana nominal yang lebih kecil. Awalnya memang masih cukup. Namun tingkat inflasi yang melonjak seperti deret ukur membuat gajinya yang seperti deret hitung keteteran. Apalagi dengan kondisi sekarang di mana kebutuhan hidup rata-rata 3 kali lipat dibanding tahun 2001. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Menyikapi fenomena ini, Pak Bos menjelaskan dengan bijak, tidak naiknya gaji mengikuti inflasi adalah sistem terbaik di kantornya. Bila mulai tidak mencukupi kebutuhan bulanan, anggaplah cobaan Tuhan. Hendaknya kita senantiasa bersyukur sambil terus bekerja dengan giat. Tak lupa ia mengingatkan agar jangan mencari penghasilan tambahan di luar karena hanya membuat pikiran tidak fokus pada pekerjaan kantor. Pak Bos yakin bahwa mempunyai pekerjaan lebih dari satu adalah pelanggaran dan menyepelekan pekerjaan perusahaan. Lho, perusahaan? Bukankah LSM?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Tempat kerja Lim memang unik. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Status resminya memang LSM, artinya lembaga non-profit. Namun Pak Bos selalu menyebutnya ‘kantor’, maksudnya perusahaan. Konsekuensinya, ia mewajibkan kehadiran penuh karyawan-karyawannya. Ia tidak segan memotong gaji dari total bruto bulanan bagi mereka yang terlambat atau tidak masuk kerja dengan alasan apa pun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Jadi, sebenarnya sistem penggajian kantor Lim tidak mengenal gaji bulanan, selayaknya perusahaan yang sekuler dan non-Islam, yang memperkerjakan karyawan tetap. Yang berlaku di kantor adalah gaji tiap jam yang dibayarkan di akhir bulan sehingga seolah-olah gaji bulanan. Dengan demikian, tidak ada sedikitpun perbedaan antara karyawan yang telah lumutan karena bekerja lebih lima tahun dengan karyawan baru yang bekerja satu bulan. Semuanya tidak menerima uang bonus, gaji ke-13, cuti bulanan, pensiun, apalagi fasilitas kantor. </span>Beruntung, tahun 2003 gajinya sudah Rp 2 juta.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Pengabaian Nilai Tambah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kondisi Lim paling unik dari karyawan lainnya. Pak Bos menekankan target terbit jurnal dan majalah yang spesifik. Pada saat yang sama, ia mewajibkan Lim masuk seperti staf redaksi lainnya yang tidak dikenai jadwal terbit yang ketat. Sekali lagi, sistem ini mustahil terdapat di negara-negara barat. Artinya, dalam suatu kondisi Lim bisa saja tidak menerima gaji seperak pun namun produk tetap dihasilkan karena dikerjakan seluruhnya di rumah. Sedangkan karyawan lain tidak dikenakan target seketat Lim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Pada saat yang sama, klaim Lim, kualitas dan standar kerjanya setara dengan dua orang. Seluruh tugas keredaksian dilakukannya sendiri, mulai dari rancang tema, isi, mencari dan menghubungi narasumber, mengedit, proof, hingga pembayaran honor penulis dan penerjemah. Demi hasil akhir, ia kerap menginap di kantor atau begadang bersama partner desainer sampul dan setter isi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Lim mencontohkan. Saat ia diminta menangani buku-buku umum dan jurnal, majalah dikerjakan oleh dua orang. Karena menggalang aksi protes karyawan, ia dimutasi untuk menghidupkan sebuah divisi pendidikan, sebuah divisi baru, sendirian. Namun karena divisi penerbitan butuh kelangsungan jurnal sebagai imej eksternal dan majalah sebagai imej internal, ia dikembalikan ke posisi semula. Merasa tidak cukup, Pak Bos memberinya tugas tambahan untuk hubungan antar lembaga, yang selayaknya diurus oleh staf tersendiri. Tidak sampai seminggu, divisi pendidikan diisi oleh dua orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Dalam kondisi seperti itulah Lim wajib hadir dan menerbitkan jurnal dan majalah tepat waktu. Sedangkan sistem kerja jurnalistik pada umumnya hanya salah satu saja, orientasi kerja harian atau orientasi target/produk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kerja Material, Gaji Non-Material</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Namun Pak Bos punya banyak amunisi teks keagamaan untuk mematahkan permohonan kenaikan gaji dan perbaikan sistem kerja. Katanya, kerja itu ibadah. Apalagi pekerjaan di lembaga ini. Janganlah kita lihat hasil atau harus dapat penghasilan berapa. Lakukan saja semua pekerjaan itu dengan sepenuh hati. Yakinlah Tuhan akan memberi ganjaran dari sesuatu yang tidak disangka-sangka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kutipan ayat-ayat suci dan kisah hidup orang-orang saleh ini cukup menyentuh Lim. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Untuk ke sekian kalinya Lim menyalahkan dirinya yang berpandangan materialistik dan hitung-hitungan. Meskipun beban pekerjaan membuatnya tidak bisa nyambi tambahan, ia tetap menanti kemungkinan adanya durian runtuh, rezeki yang datang tanpa disangka-sangka. Ia yakin Tuhan tidak ingkar janji. Di negara asalnya, Pak Bos terhitung pejabat tinggi sekaligus ulama. Masak sih dengan orang sekaliber itu Lim tidak percaya perkataannya? Wah, bisa-bisa kualat!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Lim cuma bertahan setahun lebih berkumpul bersama keluarganya. Tekanan hidup semakin menghimpit karena gaji yang ngepas. Ia memutuskan memulangkan seluruh keluarganya kepada mertuanya di salah satu kota di Jawa Barat. Di sana mertua Lim punya sawah dengan kualitas beras nomor wahid, jadi tidak perlu ada pos pembelian beras. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Demi menghemat biaya, ia menjenguk mereka dua minggu sekali. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Ia sendiri tinggal bersama kedua orangtuanya di pinggiran kota Jakarta. Tiap hari ia memacu motornya 3 jam pulang pergi rumah-kantor. Selama ia bekerja, tidak satu pun kantor memberinya fasilitas transportasi semisal motor, atau fasilitas kerja, semisal laptop atau anggaran pulsa. Semuanya berasal dari usaha sendiri 100%.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sebenarnya sudah banyak sobat yang mengingatkan kondisi ini. Anwar, sobat sejak kuliah, pernah berkata, “Kalau kau terus berada di lembaga ini tanpa ada perubahan sistem yang signifikan, maka nasibmu 20 tahun lagi sudah bisa kupastikan: kere bin miskin bin sengsara.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Pengabdian atau Penjajahan?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN">Interviewer: “Why did you change your last job?” Man: “Because the company shifted and didn&#8217;t tell me where&#8230;” (Joke)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kini lebih dari tujuh tahun Lim bekerja. Gaji yang ia terima sejak pertengahan 2005 (</span>gaji Rp 2,5 juta/bulan) <span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">selalu defisit 2 juta hanya untuk sekadar hidup ngepas, tanpa biaya perumahan, asuransi, pendidikan, dan tunjangan standar karyawan di negara-negara beradab. Beruntunglah ada penawaran kartu kredit. Kartu yang semestinya berfungsi sebagai alat tukar cadangan dijadikannya sebagai ‘sumber keuangan’ baru. Hilir mudik menghadap bosnya untuk minta naik gaji tiada efeknya selain nasehat untuk semakin giat bekerja karena pengabdian kepada Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Dengan pengabdian selama ini, ia belum punya rumah, meskipun sekadar tipe 21. “Seandainya sistem penggajian kantorku rada waras dan Pak Bos punya kebijakan tentang perumahan karyawan, niscaya aku bisa sisihkan gaji 500 ribu sebulan,” katanya sedikit geram. Ya, 7 tahun kerja X 12 bulan X 500 ribu = 42 juta = rumah tipe 21. Pasti bisa. Ia kemudian menyebutkan beberapa perusahaan milik orang Kristen atau sekuler yang sangat peduli dengan kesejahteraan karyawan-karyawannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Tapi takdir berbicara lain. Gajinya yang selalu defisit, meskipun seluruh anggota keluarga puasa Senin-Kamis plus puasa Nabi Daud, tetap tidak ada sisa gaji yang bisa disisihkan. Ah, mungkin saja kamu hidup boros, Lim? “Seandainya saja keluargaku makan daging seminggu sekali itu disebut boros, maka bagaimana dengan gaya hidup Pak Bos?” Lim bercerita, biaya makan Pak Bos dan sekeluarga selama sebulan senilai empat kali gaji Lim. Tagihan kartu kredit yang mencapai puluhan juta rupiah mulai tidak bisa dilunasinya dengan tertib waktu. Malah sekarang ponselnya akrab ditelepon oleh debt collector.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="FR">Tapi Pak Bos punya pikiran lain. Baginya, meningkatkan kinerja karyawan adalah dengan menambah fasilitas kerja di kantor sambil menebar teror psikologis. Alih-alih membahagiakan karyawan, Pak Bos senang melihat karyawannya hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Ia tidak sadar dan tidak percaya bahwa kesejahteraan karyawan dan rasa senang dalam diri mereka syarat awal produktivitas. Baginya karyawan itu barang, yang bisa diganti atau dibuang kapan pun ia mau, bukan aset yang mesti diperlihara atau ditingkatkan skill, knowledge, dan wealth-nya. Apabila karyawan itu tidak lagi dibutuhkan maka dengan entengnya ia persilakan mereka untuk pindah kerja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="FR">Pak Bos cukup lihai memaksimalkan keringat karyawannya. Ia merasa bersalah apabila melihat supirnya sedikit melonjorkan kaki untuk mengurangi penat dan lelah. Selain tugas kantor resmi, ia punya tugas tambahan mengantar jemput keluarganya. Jam kerjanya molor tak keruan. Masuk kerja jam 7 pagi dan bisa kelar hingga jam 11 malam. Kejadian yang tidak sekali dua kali. Tidak heran, ia pernah menabrak tratoar karena tertidur saat mengemudi. Intensif? Tidak ada. Uang lembur? Sangat jauh dari yang semestinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="FR">Bos menyikapi setiap karyawannya secara personal sehingga antar karyawan tercipta hubungan yang tidak solid, bahkan mungkin saling curiga. Secara diam-diam Pak Bos suka memberi hadiah kepada orang-orang tertentu, yang bila dihadapkan dengan sistem kerja selama ini, adalah hak mutlak karyawannya. Mungkin ini bonus yang sengaja ditebar secara sporadis. Karyawan yang tidak jeli menyikapinya sebagai hutang budi, bukan hak, sehingga membuatnya tidak kritis dan menikmati eksploitasi ini. Tidak heran, secara alamiah terjadi saling jilat agar mendapat posisi khusus (baca: disayang dan diberi ‘bonus’). </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Jelas ini merusak mental dan harmoni kerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Yang paling hancur dengan sistem kerja semacam ini adalah mental karyawan. Jiwa bebas dan independen mereka menyusut drastis, nyaris tak berbekas. Tekanan reward (gaji yang kecil, tanpa bonus) dan punishment (porsi kerja, potong gaji, tanpa hirarki yang jelas) membuat mereka selalu merasa ketakutan dan diawasi tiap saat. Rekan kantor Lim yang sudah kaya sejak orok pun turut khawatir bila tidak bisa bekerja di tempat sekarang. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Padahal bisnis, tabungan, deposito dan investasinya di luar sudah melebihi gajinya. Istrinya pun bekerja. Tapi masalahnya bukan gaji, melainkan mental.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Mengapa tidak dilaporkan ke disnaker? Pak Bos orang pintar, karena sering minum Tolak Angin. Sampai saat ini tidak ada satu pun kontrak kerja yang diteken antara Pak Bos dan karyawan. Sehingga tidak ada yang bisa dituntut dari Pak Bos tentang praktik ketenagakerjaan karena memang tidak ada kontrak kerja, apalagi serikat pekerja dan koperasi karyawan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Mungkin itulah rahasia ia diturunkan di muka bumi ini. Sejak perusahaan tersebut berdiri, tidak serupiah pun perusahaan membayar pajak. Bila di negeri asalnya seluruh karyawan mendapatkan asuransi kesehatan, maka itu tidak diberlakukan di negeri kita. Namun ia akan memotong gaji setiap karyawannya meskipun menderita sakit dan ada surat dokter. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Salah Perasaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Dulu Lim menduga praktik ini murni salah komunikasi dan perbedaan budaya saja, bukan kesalahan manajemen. Apalagi tongkrongan bosnya yang saleh ritual dan selalu senandungkan kisah-kisah sufistik. Namun ia mulai menyadari eksploitasi tersebut setelah mengetahui bahwa Pak Bos membeli sedan baru. Ia juga dapat bocoran bahwa Pak Bos dan keluarganya sering berakhir pekan di Ciater, menyewa tempat peristirahatan yang mustahil ditiru oleh karyawan yang rajin menabung selama setahun penuh. Anggaplah semua ini isu yang perlu diverifikasi datanya. Tapi yang pasti gaya hidupnya dan keluarganya tidak sesederhana yang dikhotbahkan selama ini. Setidaknya, Lim baru menyadari bahwa di dalam sistem yang salah (yang tidak menganggap karyawan sebagai aset), orang baik bisa mendadak zalim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> lagi pemandangan yang semakin mengguncang rasa keadilan dan sense of crisis Lim. Pak Bos membuat sebuah kolam ikan besar persis di depan rumahnya. Ia juga baru membeli vila untuk tamu-tamunya di daerah Bogor. Sedangkan karyawan-karyawannya tetap hidup dalam kondisi paria. Tahun 2008 saja tidak ada kenaikan gaji, meskipun hanya Rp100 ribu. Usulan perubahan sistem, di mana gaji standar saja tapi bonus diperbesar, tidak digubris sama sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Lim sudah tidak kuat melihat kenyataan-kenyataan ini. Tiba-tiba ia menyadari dirinya yang menua, fisiknya yang menurun drastis, dan kondisi hidupnya yang abnormal (sistem perusahaan menjauhkannya dari keluarga). Manajemen perusahaan sungguh berbeda jauh dengan ceramah-ceramah Pak Bos yang menekankan agar kita selalu membimbing keluarga di jalan Tuhan. Pak Bos telah berlaku ‘benar’ dengan posisinya sebagai kepala keluarga. Namun dalam kehidupan sosial, perilaku baiknya berubah zalim karena menumbalkan orang lain yang notabene bawahannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Aris, seorang karib, pernah berkata kepada Lim, “Aku mimpi kamu berorasi dikelilingi orang dewasa, pemuda, bahkan remaja. Mereka sungguh terhipnotis dengan retorikamu. Namun ada yang aneh dalam mimpiku. Aku lihat kau tidak memakai kacamata. Aku segera bertanya apa maknanya kepada kakakku. Ia menjawab: Ini adalah masa-masa terakhirmu. Sekali kau lewatkan, maka akan lewatlah selamanya.” Maksudnya jelas, Lim harus membuat lompatan besar agar hidupnya berubah. Bila tidak, ia akan menyesal seumur hidupnya. Persis ungkapan Tung Desem Waringin dalam Financial Revolution-nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Aris mengingatkan betapa potensi hidup dan prestasi kerja Lim selama ini habis tersedot oleh perusahaan tanpa imbalan dan ganjaran yang setimpal. Aris tahu, Lim cukup lama aktif di organisasi kemahasiswaan dan LSM (yang dimaksimalkan perusahaan dengan bidang Hubungan Antar Lembaga/Kehumasan) dan jurnalistik (yang dimaksimalkan perusahaan untuk mengurus jurnal dan majalah). Belum lama ini, Lim baru saja membuat sebuah buku tanpa kontribusi sedikitpun dari perusahaannya. Bahkan gajinya dipotong tanpa ampun selama ia menjadi mengisi training kaum muda di daerah-daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Surat</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> itu masih kupegang ketika Lim berkata lirih bahwa ia ingin ada sebuah hasil akhir yang sama-sama menguntungkan kedua pihak, dirinya dan perusahaannya (yang sudah sangat jelas mengelabanya). Permintaan Lim sebenarnya sangat sederhana. Dan itu adalah sistem kerja keredaksian jurnal dan majalah yang wajar di seluruh jagad. Dengan beban kerja setara dua orang, ia hanya ingin dikenakan kebebasan waktu kerja. Ia rela tidak dikenakan waktu lembur. Yang penting target tercapai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Hal itu sudah ia buktikan. Tahun 2008 ia menghasilkan enam produk, 3 jurnal dan 3 majalah yang ia kerjakan sampai larut malam di rumah. Target 5 produk terlampaui. Meskipun selama itu pula gajinya dipotong karena selalu datang terlambat akibat lelah begadang pada malam sebelumnya. Lim berkata masih sangat toleran untuk rapat redaksi atau beberapa hari kerja formal dalam seminggu. Ia menegaskan bahwa ia telah memberikan nilai tambah dan keuntungan kepada kantor. Alih-alih berterima kasih dan memberi reward, perusahaannya menutup mata atas realitas tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Pada Agustus 2008, <span style="color:black;">the JobsCentral membuat sebuah kuisioner: &#8220;Will you choose a high-paying job that you dislike over a low-paying one that you enjoy?&#8221; Hasilnya, dari 257 responden, 101 orang menyatakan “Ya” dan 156 orang bilang &#8220;Tidak&#8221;. Aku bertanya pada Lim, nampaknya uang itu menjadi motivator utama sikapnya. Lim menyatakan, “Tidak juga. Tapi lebih pada ketiadaan reward dan punishment yang jelas, semata-mata karena Pak Bos tidak menilai karyawan sebagai aset perusahaan.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Lim yakin semua karyawan mengalami gangguan psikis seperti dirinya. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Karenanya sejak dulu Lim ingin solidaritas antar karyawan membuahkan sesuatu yang konkret. Misalnya pendirian serikat pekerja atau koperasi karyawan. Tapi kedua hal ini masih mewah dalam imaji teman-temannya. Atau Lim tidak mampu mengomunikasikan kedua hal tersebut. Tapi Lim berharap setidaknya ada keberanian dari teman-temannya yang selalu mengeluh dan bicara keras di belakang Pak Bos, bahkan mungkin sudah mengajak rekan-rekannya untuk keluar ramai-ramai saja, namun terbukti paling betah di posisinya. Mungkin kursinya sudah jadi aset tersendiri..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Putus, Tus!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Lim masih memberi nilai positif pada kantornya. Betapa pun, tempat ini sudah pernah menolongnya, terutama saat ia nganggur. Namun seiring waktu berjalan, Lim butuh ruang aktualisasi dan pengabdian yang lebih luas, yang memang sejak awal tidak disediakan oleh kantornya dan mungkin tidak disadari oleh Pak Bos.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sampai berita ini diturunkan, nasib Lim belum jelas. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Pak Bos tidak mengabulkan atau menanggapi permohonan Lim. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Dari info yang didapat, ia minta tanggapan beberapa orang dekatnya. Semuanya berkata Lim jangan dilepas. Lim masih sehat dan produktif. Peraslah ia hingga tinggal tulang dan kentut. Lagipula, keluarnya Lim bisa membuka aib kantor selama ini terkesan baik, sehat, dan saleh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">“Aku capek lahir batin. Pengabdianku sudah lebih d</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">ari cukup. Aku ingin hidup normal. Aku ingin bertemu anak-anakku setiap saat, melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan sehat, ceria, dan sejahtera. Aku ingin mereka punya figur ayah yang utuh dan bisa berkata dengan bangga kepada setiap orang: Inilah ayahku!” Lim masih ingat peringatan Mario Teguh tentang perusahaan yang tidak mau menghargai prestasi/nilai tambah karyawannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Lim menambahkan, “Aku ingin anak-anakku bisa menjadi orang-orang merdeka, yang memerdekakan orang lain dan tidak menggunakan kemerdekaannya itu untuk memperbudak orang lain.” Nampak jelas Lim tidak ingin anak-anaknya menjadi orang baik seperti Pak Bos tapi zalim saat jadi pemimpin karena menerapkan sistem kerja yang salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">“Bagaimana menurutmu?” tanyanya mengulang. Lim hanya ingin bebas waktu kerja atau ia mundur saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya ingat sebuah pepatah: “Cintailah pekerjaanmu tapi jangan cintai perusahaanmu karena kau tidak tahu kapan perusahaanmu berhenti mencintaimu.” [andito] </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/287/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=287&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/16/pekerjaan-lim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/03/worstjob.jpg?w=93" medium="image">
			<media:title type="html">worstjob</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dr. O. Hashem: Semangat Hidup, Rasionalitas dan Buku</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/06/obituari-dr-o-hashem-semangat-hidup-rasionalitas-dan-buku/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/06/obituari-dr-o-hashem-semangat-hidup-rasionalitas-dan-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 02:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Testimoni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[  
“A hero is born among a hundred, a wise man is found among a thousand, but an accomplished one might not be found even among a hundred thousand men.” (seorang pahlawan lahir di antara ratusan orang, seorang bijak ditemukan di antara ribuan orang,  tetapi seorang yang sempurna malah mungkin tidak bisa dijumpai di tengah-tengah ratusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=281&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB"><a href="http://ahmadsamantho.files.wordpress.com/2009/01/o-hashem1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-283" title="ohashem" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/03/ohashem.jpg?w=105&#038;h=97" alt="ohashem" width="105" height="97" /></a>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">“<a href="http://thinkexist.com/quotation/a_hero_is_born_among_a_hundred-a_wise_man_is/218314.html"><span><span style="font-family:Times New Roman;">A hero is born among a hundred, a wise man is found among a thousand, but an accomplished one might not be found even among a hundred thousand men.</span></span></a>” (seorang pahlawan lahir di antara ratusan orang, seorang bijak ditemukan di antara ribuan orang,<span>  </span>tetapi seorang yang sempurna malah mungkin tidak bisa dijumpai di tengah-tengah ratusan ribu manusia) (Plato, 428-348 SM)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB"><span id="more-281"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Pepatah mengatakan, kita baru akan merasakan kehilangan sesuatu setelah kepergiannya. Begitulah gambaran umum tentang Omar Hashem Assegaf, nama lengkap dr. O. Hashem, seorang dokter umum yang lebih dikenal sebagai penulis buku-buku keislaman. Setelah menderita sakit cukup lama, ia wafat pada Sabtu 24 Januari 2009 di Rumah Sakit MMC Jakarta. Masyarakat Islam Indonesia baru menyadari, mereka tidak hanya kehilangan seorang ulama yang tidak jaga gengsi, sahabat yang tidak pernah sedih, dan seorang kawan yang selalu menghibur, tentu juga suami yang romantis dan ayah yang tidak pernah marah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Dalam beberapa kasus, kita sering temukan tokoh-tokoh yang secara publik dikenal luas sebagai seorang yang relijius, humanis dan demokratis. Namun ketika di rumahnya sendiri ia adalah monster yang menakutkan bagi orang-orang di sekitarnya karena perilaku buruknya. Tapi fenonema tersebut tidak berlaku pada sosok Omar Hashem, yang akrab dipanggil Ami (paman, Arab). </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Apa yang ia tampilkan di luar adalah cermin nyata dari kesehariannya di rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Keluarga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Apabila kata ‘sempurna’ itu terlalu mewah dilekatkan kepadanya, maka cukuplah seluruh keluarganya bersaksi bahwa ia selalu sederhana, berbuat baik kepada siapa pun dan tidak pernah marah. Mereka masih ingat wejangannya untuk selalu bisa menyukuri apa yang ada. Kata Ami, “Menikmati sesuatu tidak harus dengan yang mahal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Ami memang tampil apa adanya. Sebagai seorang suami, beliau adalah orang yang setia dan cukup romantis. Seringkali beliau berkata kepada Dijah, panggilan sayang untuk istrinya Khadijah al-Kubra, “Jangan tinggalkan aku. Aku tidak kuat hidup tanpamu.” Dalam beberapa kesempatan, ia seing mengungkapkan kekagumannya kepada istrinya. Ia berkata bahwa amal jariyah yang akan ia tunjukkan ke hadapan Allah adalah kecintaannya yang sangat kepada istrinya. Secara tidak langsung Ami memberitahu, laki-laki yang tidak menghormati istrinya adalah seorang pengecut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sebagai orang dari belahan timur Nusantara, Ami familiar dengan hidangan ikan laut. Begitu pun, beliau akan memakan apa saja yang terhidang di meja meskipun mungkin tidak terlalu disukainya. Hingga akhir hayatnya, Ami selalu memuji dan memakan setiap masakan istrinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ami memang dikenal tidak cerewet dalam hal makanan. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Tepatnya, tidak merasa punya pantangan. Padahal kondisi tubuhnya sudah tidak memungkinkan. Ia hanya menghindari makanan-makanan manis karena menderita diabetes. Ia baru berhenti mencecap makanan-makanan kegemarannya bila lambungnya sudah sakit. Dalam kondisi sakit, lima suapan sudah terbilang lahap. Ami tidak suka bubur. Tapi demi menghormati yang menghidangkannya, maka bubur itu ia kunyah juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Seandainya sudah mulai bosan dengan menu yang ada, ia akan mengutarakannya dengan guyon yang tidak akan menyinggung perasaan yang mendengarnya. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Misalnya “Kita ini kan golongan macan ya, masak makan ayam terus?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Kesusahan hidup yang menyelimutinya dilawan dengan senantiasa bersalawat dan mengingat Rasulullah. Ami sering mengutip ungkapan Thomas Carlyle, “Kalau singkatnya waktu yang ada, sederhananya alat yg dipakai, dan besarnya hasil yang dicapai adalah ukuran kebesaran seorang anak manusia, m</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">aka di muka bumi ini tidak ada orang yang sebesar Nabi Muhammad.” Kemudian beliau menambahkan, “Inilah Muhammad Rasulullah yang menambal sendiri pakaiannya yang robek, memperbaiki sandalnya yang koyak, dan membantu istrinya dengan sepenuh hati. Tapi kewibawaannya lebih besar dari kaisar mana pun.” Waktu yang singkat merujuk pada 23 tahun masa kenabian, alat sederhana itu kuda dan onta, dan hasilnya adalah umat dan peradaban Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Aktivitas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Ami juga dikenal tidak suka diam. Tidak suka melamun. Muhammad Hashem, kakak kandung Ami, bercerita bahwa suatu hari Ami menjelaskan mengapa ia tidak pernah mau diam. Katanya, “Manusia itu adalah makhluk mulia. Keberadaannya harus bermanfaat bagi lingkungan dan rahmat bagi semesta. Sehingga nilai seorang manusia terletak pada aktivitasnya, bergerak. Jadi, ‘Aku bergerak karena itu aku ada!” Nampaknya Ami sangat terpengaruh oleh pemikiran Muhammad Iqbal, cendekiawan Muslim dari Lahore dan salah seorang pendiri Pakistan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Tiap pagi Ami, pernah jadi kepala sekolah SMP Muhammadiyah di Manado saat usia 17 tahun, suka minum kopi sambil membaca koran atau buku. Setelahnya ia mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan. Setidaknya, bila tidak membaca buku, ia mengetik. “Abah hanya diam saat tidur.” Tutur Husein, anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Karena itulah secara alamiah, tugas pembantu di rumahnya sedikit berkurang karena Ami selalu mencuci piringnya sendiri. Meskipun keluarganya sudah melarangnya berkali-kali tidak perlu karena sudah ada pembantu. “Agak norak,” kata Husein sambil tersenyum. Maksudnya, gara-gara majikannya doyan bekerja, pembantu rumah tangga sampai tidak bisa bekerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sikap kuriositasnya sangat getol. Bila ada sesuatu yang ingin diketahuinya akan dicarinya hingga dapat. Contohnya, beliau bisa memindahkan seisi rumah saat mencari buku catur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Tentang hobinya, siapa sangka bahwa dokter penulis ini jago main catur, bridge, dan domino (gaple). Lawan tandingnya sekualitas grandmaster. Untuk domino, ia mampu mengetahui isi kartu di tangan lawannya. Dan hitungannya selalu tepat. Begitu juga dengan bridge yang suka dimainkannya bersama ibu. Sayangnya Ami tidak suka hingar bingar turnamen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Bagaimana dengan pembantunya di rumah? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Ami pernah punya pekerja rumah tangga yang beragama Kristen. Wanti-wantinya: “Jangan sekali-sekali coba Islamkan dia.” Bukannya agresif menerangkan ajaran Islam hingga berbusa-busa, Ami malah rutin mengantarkannya ke gereja. Seisi rumah memanggilnya ‘Mbak’, dilarang keras memanggilnya dengan sebutan yang menghina dan merendahkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kebanyakan orang memandang rendah pekerja rumah tangganya (baca: pembantu), lengkap dengan perlakuan khususnya: hanya boleh berkeliaran di dapur, waktu makan dan menunya berbeda dengan majikan, tidak boleh berkumpul dengan majikan dan lain-lain. Pekerja rumah tangga tak ubahnya setengah manusia. Di beberapa ‘tradisi’ keluarga kaya, memanggil pembantu juga tanpa mulut, tapi cukup dengan lonceng. Tidak ada bedanya dengan memanggil anjing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Tapi Ami memperlakukannya sungguh berbeda. Pembantunya makan satu meja dengan keluarga Ami dengan menu yang sama. Mbak itu dikursuskan dan disekolahkan. Ami ingin ia maju. Karena itulah Mbak itu hanya bekerja selama dua tahun karena ingin sekolah kesusteran di Padang. Tidak selesai sampai di sana, Ami pun rutin mengirimi ia buku-buku kebutuhan sekolahnya. Dari semua hal ini, Ami menasehati keluarganya, “Kita boleh saja tidak mampu secara ekonomi tapi kita mesti urusi semampu kita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Orang Kecil</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Kehangatannya terhadap sesama tidak hanya dirasakan oleh keluarganya. Semua orang mengakui bahwa Ami sangat peduli kepada masyarakat, terutama orang kecil. Padahal kehidupan beliau pun cukup memprihatinkan. Sangat tidak sebanding dengan titel dokternya yang biasanya sudah hidup mapan sejahtera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Ami sempat tinggal di Depok 1 tahun, di Condet 2 tahun, di Sukabumi 1 tahun (niat awalnya mau bertani cabe), di Pondok Gede 4 tahun dan terakhir di Jatibening sejak 4 tahun lalu. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Sebelum mendiami rumah permanennya di Jatibening, beliau selalu mengontrak rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ami banyak mengail kebijakan hidup dari orang-orang kecil di sekitarnya. Misalnya dengan tukang sampah di kompleks perumahannya. “Dia orang hebat, masih mau mengurusi kotoran dan sisa makanan kita. Kita yang konon lebih dari segala-galanya darinya belum tentu mau melakukan hal itu.” Kata Ami suatu hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Karena kepeduliannya itulah kadang orang rumah jadi kerepotan. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">“Salah satu barang yang sering hilang dari rumah adalah tang. Setelah dicari-cari, ternyata sudah Abah berikan kepada tukang sampah. Kadang-kadang kita sampai punya cadangan 3 buah tang, untuk jaga-jaga siapa tahu Abah memberikannya lagi kepada orang lain,” tutur Husein Hashem, salah seorang anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Pernah suatu saat tukang sampah itu tidak kelihatan selama beberapa hari. Setelah dijenguk, ternyata ia sedang sakit. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Setelah didiagnosa, Ami segera memberi obat gratis kepada tukang sampah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Di pihak lain, Ami tidak suka mendatangi pejabat atau orang-orang kaya, meskipun masih ada kaitan keluarga dengannya. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">“Jangan sampai kita disangka datang untuk meminta-minta.” Katanya. Namun hubungan personal tetap dijaga harmonis.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Kedekatan dengan orang-orang miskin sudah dilakoninya sejak kecil. Setidaknya sejak menjadi mahasiswa kedokteran, ia sudah berkomitmen, “Saya tidak akan menolak ditempatkan di mana pun, karena saya sudah mengambil keputusan untuk mengabdi kepada rakyat,” kata ayah empat anak ini.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Pernah suatu kali ada pasien yang membayar biaya berobat rumah sakit. Oleh petugas rumah sakit, uang recehannya yang tidak seberapa itu tidak dikembalikan. Melihat hal itu, ia segera menyuruh uang itu dikembalikan.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="FR">Ada seorang pasien miskin datang mengaku sakit karena disantet. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Setelah diperiksa diketahui bahwa itu hanya penyakit maag dan demam. Karena tidak punya uang, pasien itu bermaksud membayarnya dengan seekor ayam. Ami menolak. Bahkan pasien itu diberinya obat-obatan dan uang. “Penderita maag biasanya tidak bisa makan karena tidak punya uang. Saya tidak tega untuk mengambil uang mereka,” katanya. Ia sangat prihatin dengan biaya kesehatan yang mahal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Pada suatu hari pegawai rumah sakitnya dipukul seorang tentara koramil. Dia segera datangi koramil itu dan menuntut pelakunya. Meskipun diteror hingga ancaman bunuh, ia tetap membela karyawannya. Akhirnya orang koramil itu dimutasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ami bersikap keras terhadap pelaku kezaliman. Tapi ia tidak pernah marah kepada pemabuk. Baginya, pemabuk adalah orang baik yang akalnya pendek yang ingin cepat mendapat solusi. Sehingga pemabuk tidak dijauhinya, melainkan didekati dengan persuatif. Banyak pemabuk yang sadar karenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Abdullah al-Jufri berkomentar, kehidupan Ami memang dekat dengan kaum tertindas. Sebagaimana sabda Imam Ali as, &#8220;Manusia tidak bisa lepas dari dua hal, yaitu dizalimi atau zalim terhadap suami/istri, anak dan pegawai/masyarakat.&#8221; Dan beliau memilih bergabung dengan orang-orang yang tertindas.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Pulang praktik dari Lampung, ia kembali ke Jakarta dengan uang yang hanya cukup untuk tiket. Meski demikian, uang pensiunannya yang hanya Rp 620 ribu selalu disisihkan 10 kg beras tiap Senin untuk tukang sampah yang mempunyai anak banyak. Padahal ia sering kesulitan untuk membeli obat dan biaya rumah sakit untuk dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Tamu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">”Efek bicara ngobrol dengan dr. O. Hashem: Pengetahuan bertambah dan semangat meningkat.” (Hassan Daliel al-Idrus)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sebuah kajian psikologi mengatakan, kepribadian seseorang bisa dilihat dari bagaimana caranya menerima tamu. Dan semua kalangan tahu betapa Ami sangat menghormati orang, apalagi yang bertamu ke rumahnya. Tidak pernah sedikitpun ada rasa kesal atau perasaan terganggu. Bahkan beliau akan mengondisikan tamunya senyaman mungkin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Ami dikenal sangat memegang etika dan tidak suka bergunjing, selama tidak menyangkut prinsip. Kebiasaannya menerima banyak tamu juga menandakan pertemuannya dengan banyak tipe orang. Sikap orang-orang yang berbeda itu selalu dikondisikannya agar tidak menjadi persoalan. Katanya, “Kita ini tuan rumah. Menghargai tamu adalah kewajiban utama di atas segala-galanya. Mungkin saja kita tidak menyukainya, tapi carilah kesukaannya supaya kita pun turut senang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Haidar Yahya, seorang produser musik, yang mengenal Ami sejak 40 tahun lalu, juga punya kesan mendalam tentang sikap ini. Selama ini ia menyaksikan bahwa Ami suka menerima tamu dari berbagai golongan, agama, dan etnik tanpa pilih-pilih. Ami selalu membesarkan hati orang yang datang kepadanya. Semua diperlakukan sama. Beliau hanya tidak suka terhadap orang yang sombong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Siapa pun orang yang datang ke rumahnya dengan perasaan sempit akan pulang dengan besar hati. Sebodoh apapun ucapan orang akan ditanggapi dulu dengan positif, baru kemudian diluruskan dan dicarikan solusinya. Haidar belum pernah melihat Ami mengusir tamu yang datang, baik secara halus, apalagi secara kasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Musa Kazhim, salah seorang penulis buku laris <em>Ahmadinejad</em>, bercerita bahwa Ami sangat menghargai anak-anak muda. Katanya, “Bukan sekali dua kali Almarhum menuturkan kekagumannya pada anak-anak muda yang beraktivitas di bidang keilmuan dan kebudayaan. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN">Kekaguman yang sebenarnya bersumber dari keinginan Almarhum untuk memotivasi mereka.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Nampaknya Ami Omar dikaruniakan Allah sesuatu yang khas. Penderitaan Ami akan berkurang bila ia bertemu banyak orang. Bicara adalah obat utamanya, baru kemudian obat medis. Semakin ia bertemu banyak orang, semakin semangat dan senanglah ia. Hal ini cukup membingungkan. Di mana-mana orang sakit butuh istirahat yang cukup tapi Ami Omar justru semakin fit saat bertemu orang. Tentu tinggal bagaimana kearifan tamunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Ami Omar memang selalu menghormati tamu, namun itu tidak berarti dirinya menjadi hak tamu tersebut sepenuhnya. Tanpa kepekaan sosial yang cukup, tanpa sadar tamu-tamunya menzalimi Ami Omar karena membuatnya tidak punya waktu istirahat yang cukup. Yang tamunya hanya lihat, </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ami selalu ceria dan punya rasa humor yang besar, bahkan dalam kondisi sakit berat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Keluarganya pernah komplain agar beliau membatasi diri dalam menerima tamu. Namun himbauan itu tidak digubris. Tetap saja wajah cerianya muncul ketika ada orang yang datang bertamu. Demi berkhidmat kepada orang lain, beliau merelakan waktu istirahatnya berkurang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kata Ami, “Biarkanlah. Tamu ini adalah kewajiban saya untuk menghormatinya. Tidak ada yang bisa intervensi.” Tidak heran, Emha Ainun Nadjib bekata, “O Hashem itu begawan keilmuan dan kemanusiaan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Setelah tamu pulang, tugas berat menanti istrinya karena Ami akhirnya menjadi susah tidur sampai pagi karena penyakitnya sering kambuh. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Tiap jam ia harus disemprot obat asma untuk mengurangi sakit dada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Dakwah </span></strong></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Pengetahuannya tentang agama diperolehnya dari membaca buku secara otodididak. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">“Saya tidak ada pendidikan khusus untuk agama,” ujar pr</span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">ia kelahiran Gorontalo, 28 Januari 1935 ini.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Ketertarikannya dengan dunia dakwah dimulai ketika Ami kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Di sana beliau tinggal di asrama bersama beberapa orang Kristiani. Suatu hari partner main caturnya yang non-Muslim berkata bahwa sebutan Tuhan Bapa itu ada juga di Islam. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Sejak itulah ia intens belajar agama. Lalu belajar bahasa Arab kepada Ahmad al-Idrus dari Lampung, membeli kamus, meminjam buku tata bahasa Arab, kemudian menulis buku yang bersumber dari bahasa Arab. Enam bulan kemudian Ami sudah bisa membaca buku-buku berbahasa Arab.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Bersama-sama dengan lima temannya: Hadi A. Hadi, Hasan Assegaf, Muhammad Suherman (Muhammadiyah), Saad Nabhan (Al-Irsyad), dan Husain al-Habsyi, Ami mendirikan YAPI (Yayasan Penyiaran Islam) pada tahun1961. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Tahun 60-an ia berceramah sebulan sekali di ITB dan Unpad. Tahun 1965 ia mulai berdakwah tentang Islam ke orang-orang Tionghoa.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Pada tahun 1960-an, ketika Muhammad Natsir keluar dari penjara, Ami diundang secara rutin untuk ceramah di Dewan Dakwah. Sosok Natsir dikenalnya dengan baik. Bahkan waktu itu Natsir mengirim surat untuk O, Hashem beserta buku Prof. Dr. Verkuyl yang berjudul “<em><span style="font-style:normal;font-family:Verdana;">Intepretasi Iman Kristen kepada Orang Islam</span></em>”. Buku itu dijawab oleh Ami dengan buku lagi “<em><span style="font-style:normal;font-family:Verdana;">Jawaban Lengkap kepada Pendeta Prof. Dr. J. Verkuyl</span></em>” (1967). Kemudian Natsir mengirimkan lagi surat terima kasihnya. Prof. DR. HM. Rasyidi pernah mengatakan dalam sebuah seminar, “Di depan saya ada anak muda yang menjadi guru saya,” seraya menunjuk kepada Ami.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Setelah lulus Fakultas Kedokteran di Universitas Padjajaran (di Unair sampai sarjana kedokteran), ia ditempatkan di Lampung sebagai dokter puskesmas. Di sana ia masih sering diminta ceramah. Meski ia berencana untuk tidak aktif berceramah, tapi panggilan hatinya melihat minimnya dakwah di sana membuatnya terpanggil.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Baginya, problem dakwah itu kemiskinan. Dulu, kata dokter dari keluarga petani ini, banyak ulama turun ke masyarakat miskin sehingga jarang muncul agama sempalan, karena orang-orang miskin juga mendapat penerangan Islam. “Sekarang ini yang bisa memanggil ulama itu orang kaya, yang bisa bayar. Orang miskin tidak bisa, karena tidak mampu bayar. Ulama sekarang banyak pertimbangan bila diminta berceramah di daerah kumuh, sebaliknya spontan menyanggupi bila yang mengundangnya pengajian orang-orang kaya.” </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Demi orang-orang miskin, Ami rela mengabdi tanpa dibayar. Bukan saja pengetahuan agama dan kesehatan yang ia berikan, bahkan obat dan uang pun ia berikan kepada kaum lemah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Rasional</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">“Kita tidak perlu meminjam mata orang lain untuk melihat berbagai problem dunia. Kita punya mata sendiri untuk lihat segala persoalan.” (kata-kata Iqbal yang sering dikutip O. Hashem)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Berpikir ilmiah sudah menjadi tradisi keluarga bermarga Assegaf ini turun temurun. Berulangkali Ami mengatakan dalam berbagai kesempatan betapa rasionalisme itu sangat vital dalam kehidupan ini. Sesuatu yang kita yakini harus masuk akal dan rasional. Suatu kali beliau berkata, “Gunakanlah otak kita meskipun hanya untuk sekali seumur hidup. Karena rasionalitaslah yang membuat manusia itu dicipta.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sikap rasional inilah yang menjadi watak utama beliau dalam menyikapi segala sesuatu. Muhsin Labib, doktor filsafat Islam jebolan UIN Jakarta menuturkan. Pada suatu kesempatan, ia ingin menguji seberapa pintar Ami Omar. Ia bertanya tentang mimpi buruk secara saintifik. Karena selama ini Labib hanya mendapat jawaban-jawaban horor karena selalu dikaitkan dengan dosa, akhirat, dan semacamnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Jawaban Ami sungguh menarik. Katanya, syaraf manusia mampu menyimpan milyaran gambar yang tersimpan rapi dalam folder-folder di otak. Gambar-gambar tersebut akan keluar apabila diperlukan, baik disadari maupun tidak. Allah Swt, melalui mekanisme yang sudah ada di dalam tubuh manusia sering memberikan peringatan dini kepada hamba-Nya dalam situasi yang terjepit. Syaraf itulah yang bekerja saat tidak sadar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Misalnya saja dalam kondisi tidur. Manusia saat tidur seringkali tidak dalam kondisi fisik sehat atau posisi tidur yang benar. Akibatnya, darah tidak mengalir dengan lancar dan asupan ke otak macet. Kondisi ini bisa menyebabkan orang meninggal mendadak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Nah, dalam upaya menyelamatkannya dalam bahaya kematian, syaraf mengirimkan gambar-gambar yang bisa memberikan rangsangan kesadaran, yang biasanya menakutkan. Dengan hal itulah dia terbangun dan mengubah posisi tidurnya agar darahnya mengalir kembali dengan lancar dan dia selamat dari kematian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Kota Agung, <span style="color:black;">sebuah kecamatan di Kabupaten Tanggamus, Lampung,</span> turut merasakan efek rasionalitasnya. Saat beliau masih dinas di RSUD setempat, beredar isu tentang harimau jadi-jadian yang sudah membunuh banyak orang. Konon harimau siluman tersebut berasal dari Gunung Kawi, di Jawa Timur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Yang membuat Ami kesal, berita tersebut tidak disikapi secara proporsional. Malah isu tersebut menjadi bahan obrolan pejabat pemerintah setempat. Pemburu-pemburu yang didatangkan dari Jakarta juga tidak berhasil menangkapnya. Info ini semakin menambah kemistikan harimau tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Dengan nada protes Ami bercerita, “Mengapa masalah ini menjadi pergunjingan di lembaga pemerintahan? Ketika mereka tidak mampu menjawab masalahnya, mereka larikan ke wilayah mistik yang tidak ada kaitannya sama sekali. Bila harimau itu benar dari Gunung Kawi, kenapa tidak turun di Surabaya saja yang lebih dekat? Apalagi penduduk Kota Agung lebih sedikit dari Surabaya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Bersama dua orang keluarga dekatnya, Ami menempuh perjalanan laut selama delapan jam menuju tempat harimau tersebut diduga berkeliaran. Tujuannya jelas, membunuh harimau pemangsa manusia itu dan sekaligus menegaskan bahwa semua isu itu tidak benar. Saat itu belum ada jalan yang bagus untuk kendaraan darat. Banyak pihak yang melarangnya tapi tidak digubrisnya. Katanya, “Hanya macan yang berani melawan macan!” Setelah menunggu beberapa hari dengan umpan terpasang, harimau itu berhasil ditangkap dan dibunuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Ami juga dikenal tidak suka mendengar kisah berbau klenik. Hassan Daliel al-Idrus bercerita, pada suatu hari ia dan Ami bertemu dengan seorang mubalig muda kondang yang suka mengajak zikir berjamaah di bandara. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Setelah basa basi sejenak, mubalig itu bercerita: ia baru saja mendapat infomasi bahwa dari satelit tertangkap sinar dari arah bumi. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Setelah diteropong dengan seksama ternyata berasal dari Indonesia. Dilihat lebih dekat lagi tanah Jawa. Semakin didekati lagi ternyata Depok, dan sinar itu terpusat dari majlis taklimnya. Setelah berpisah, Ami berkata kepada Hassan, “Kenapa anda kenalkan saya dengan orang seperti itu? Saya serasa mau mati mendengar ocehannya!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Dengan melihat caranya berkhidmat kepada masyarakat, sebenarnya Ami juga percaya dengan efek spiritualitas yang mengaktual di alam material. Namun nampaknya Ami ingin menegaskan bahwa pengalaman-pengalaman subjektif semacam itu tidak perlu diumbar, apalagi kepada seorang rasionalis semacamnya. Karena orang yang diam atau biasa-biasa saja bisa jadi punya pengalaman mistik yang jauh lebih dahsyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Objektif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Omar Hashem selalu berusaha menilai orang seadil mungkin. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Anwar Aris, penulis buku &#8216;Israel is not Real&#8217; (Rajut, 2009) mengungkapkan kesan personalnya. Katanya, kepeduliannya pada ilmu pengetahuan ditunjukkan pada apresiasi objektifnya atas setiap tokoh. Ami Omar suka memuji tokoh yang memang layak dipuji.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Dalam sebuah percakapan, Ami pernah berkata, &#8220;Indonesia punya banyak guru bangsa. Seperti Agus Salim, Tan Malaka, Soekarno, DN Aidit. Mereka, dengan berbagai latar belakang ideologinya, mempunyai sumbangsih tak ternilai untuk kemerdekaan bangsa ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">“Sayangnya, karena setting politik imperialis membuat bangsa ini terhambat kedewasaannya. Bahkan sering kali bangsa ini mengorbankan anak-anaknya sendiri. Sebut saja Aidit. Orangnya itu cerdas. Penguasaannya terhadap literatur barat tidak diragukan. Harus diakui, pada awal-awal kemerdekaan, Aidit turut mencerdaskan bangsa ini. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Bahkan Bung Karno tidak berani banyak ngomong jika ada di depan Aidit. Tentu saya tidak menyinggung ideologi komunismenya yang jelas-jelas saya kritik dalam buku saya, ‘Marxisme dan Agama’.” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Buku</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">“Setiap orang yang membaca karya beliau bisa disebut sebagai murid beliau. Tidak terkecuali saya. Beberapa kali berbincang dengannya seperti berbicara dengan komputer dengan memori besar. Beliau hampir bisa menyebutkan setiap kisah dan sejarah dengan lengkap. Meski demikan, tema obrolannya tidak selalu tentang agama. Terakhir ke rumahnya, beliau menceritakan tentang sejarah kopi dan jenis-jenisnya. Jenius!” (Ali Reza al-Jufri, mahasiswa UIN Jakarta).</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">O Hashem adalah dokter kemanusiaan. Tapi aktivitasnya yang paling terkenal adalah penulisan buku. Karya-karyanya yang mencerahkan beredar luas di masyarakat sejak tahun 60-an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Prof. DR. Abdul Hadi WM, budayawan, mengenang, “Saya sangat berduka atas wafat Ustadz Omar Hashem. Saya sangat menyukai percikan pemikirannya, walaupun disampaikan secara populer. Saya sering membaca buku-bukunya sejak akhir 1960an. Ketika itu saya masih kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Kampus masih fobia untuk mengajarkan pemikiran, kearifan dan hikmah yang berasal dari sumber Islam atau dari khazanah intelektual Islam.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">“Saya juga berbahagia karena pada tahun 1971 bertemu dengan adik almarhum Fuad Hashem yang berpulang ke rahmatulllah terlebih dulu. Kami bersahabat sampai tahun 1973 dengan Fuad Hashem karena sama-sama menjadi redaktur mingguan Mahasiswa Indonesia di Bandung.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Triksi alias Damar Triadi, aktivis Voice of Palestina ini punya kisah sendiri tentang buku ‘Saqifah’. Katanya, meski ia sudah lama memakai fikih Ja’fary, buku Saqifah jelas-jelas paling mengubah wawasannya. Dengan metode yang unik, buku tersebut menjungkirbalikkan pemahamannya yang dulu masih lugu. Semua tokoh diperlakukan apa adanya. Ami Omar memakai analisa studi kritis tanpa mengunggulkan satu tokoh dengan yang lain. Terbukti cara ini menarik minat banyak kalangan dalam melihat sejarah umat Islam. Triksi sendiri mengaku menjadi pengikut Ahlulbait karena melihat sosok Imam Ali, bukan melihat kelakuan sahabat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Boleh dikata, buku <em>Saqifah</em> adalah garis pembatas dua golongan pembaca, yang objektif dan subjektif. Pembaca moderat akan berpihak rasionalitas. Artinya, data-data masyhur sejarah bisa mentah apabila tidak ketemu logika historis. Bagi mereka, sistem masyarakat yang dibangun Nabi masih mungkin terinlfiltrasi musuh-musuh Islam yang berkedok sebagai pembela Islam. Sedangkan pembaca konservatif tidak akan melihat kompleksitas sejarah umat Islam karena memakai ukuran teologis. Hanya karena hidup semasa dengan Nabi maka mustahil ada ‘sahabat’ yang salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Eja Assegaf, seorang desainer buku dan masih keponakan Ami, bercerita: Pernah suatu saat Ami Omar dituduh Syi’ah karena tulisan-tulisannya yang sangat keras. Saat itu, beberapa ulama membuat seminar di Istiqlal yang mendiskreditkan Syi’ah pada tahun 1997. Tidak lama kemudian Ami segera menyusun <em>Syi’ah Ditolak, Syi’ah Dicari</em>, sebagai reaksi akibat kezaliman, penghakiman, fitnah, disinformasi dan miskonsepsi atas ketidakhadiran sumber Syi’ah di seminar tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Kepada pengecam buku tersebut, Ami menantang, “Silakan Anda ke rumah saya, nanti Anda akan ketemu buku-buku Sunni yg banyak, buku kedokteran dan buku-buku berbahasa Inggris. Justru riwayat-riwayat yang ada di dalam buku saya didominasi riwayat-riwayat Ahlusunah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Kata Hassan Daliel (yang bertemu pertama kali dengan Ami pada akhir 1997 setelah 25 tahun mengabdi di Lampung), Ami selalu menulis buku karena reaksi atas fitnah yang ditujukan kepada umat Islam. Buku <em>Saqifah</em> ditulis karena fitnah tentang keluarga Nabi, <em>Keesaan Tuhan</em> adalah reaksi atas Kristenisasi yang marak di Lampung, <em>Marxisme dan Agama</em> dibuat setelah PKI gencar mendeskritikan Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Meski bukunya terhitung laris, Ami tidak terlalu peduli. Bila orang lain suka mengabadikan karya-karyanya dengan tujuan ekonomis, Ami justru tidak pusing dengan kondisi penjualan bukunya, apakah berbuah royalti dan hadiah. Ia selalu berharap buku-bukunya bisa diakses oleh umat seluas mungkin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ami selalu menjaga nilai-nilai perkawanan dan persahabatan. Tapi tidak setiap orang bisa mendudukkan setiap masalah dengan porsi yang benar. setelah <em>Saqifah</em> keluar, ia banyak menerima cercaan dan ancaman dari berbagai kalangan. Termasuk dari kalangan dekatnya sendiri. Banyak dari mereka yang menjauh. Inilah yang membuatnya sampai menangis. Menurutnya, bila memang tidak suka dengan bukunya, jawablah dengan buku pula supaya tercipta sebuah dialog. Jangan sampai persahabatan hancur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Agama Lain</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">“Buktikan saja keyakinan anda. Bila benar maka saya dan keluarga saya akan ikuti agama anda.” (O. Hashem)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Ami Omar akrab dengan kehidupan majemuk, sesuatu yang jarang dirasakan oleh kebanyakan orangnya. Pergaulannya dengan lingkungan Kristen dan agama lain bukan sekadar kenal, melainkan akrab dan bersahabat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Suatu saat Husein anaknya satu kamar dengan orang Kristen. Seisi rumah ribut mengkhwatirkannya. Ami malah tenang-tenang saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Ketika Kristenisasi sedang marak-maraknya di Lampung, beliau mendatangi masyarakat. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ami memberitahu bahwa agama Islam memang tidak memberikan kekayaan instan. Nabi Muhammad saja miskin. Kita hanya punya modal cinta kepada Rasulullah. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Itu saja yang kita punya. Apa artinya diri kita bila rasa cinta hanya berbuah Indomie? Biasanya, setelah mendengar omongan Ami yang tanpa menggurui, mereka kembali ke pangkuan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Pembawaannya yang ramah membuat lawan bicaranya yang beragama non-Islam tidak sungkan untuk berdialog tentang agamanya. Sampai-sampai ada seorang pendeta bergelar doktor yang mempunyai jamaah yang banyak masuk islam gara-gara baca buku tahun 60-an. Sebelumnya pendeta itu mempunyai banyak pertanyaan tentang ketuhanan yang tidak memuaskannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Abdullah al-Jufri, pejabat dari Bank Syariah DKI menuturkan, &#8220;Saya merasakan kehilangan dengan orang yang begitu jenius dalam hal sejarah Islam dan Kristolog. Meskipun pendidikan formalnya dokter umum, Almarhum hafal banyak ayat di dalam Injil.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Abdullah mengenal Ami pertama kali ketika Ami bertugas sebagai Kepala UGD RSUD Lampung. Hobinya ngobrol sampai pagi. Yang lebih mengasyikkan Almarhum pandai melucu. Hingga saat ini. Waktu Abdullah menunaikan ibadah haji bersamanya dan Muhsin Labib, Ami menjelaskan tiap tempat yang dikunjungi dengan gamblang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">“Tidak rugi belajar menghargai orang lain.” Omongan ini selalu diulang-ulang kepada Hassan. Tidak heran, Ami akrab dengan berbagai kalangan. “Saya ini anak Betawi yang pergaulannya sempit. Tapi Ami membuat saya belajar banyak tentang pluralisme.” katanya mengenang. Usia Hassan dan Ami terpaut 28 tahun. Tapi Ami memperlakukan dirinya layaknya teman sebaya. “Saya kagum dengan keilmuan dan seni bercandanya.” katanya. Sampai sekarang Hassan mengaku tidak menemukan orang seperti Ami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Peter, seorang Kristen tetangga di Jatibening, memanggil Ami “Pak Haji” dan selalu mencium tangan Ami dengan sukarela. Hal ini tidak akan terjadi bila Peter tidak merasakan sentuhan nilai-nilai dan kemanusiaan sampai melintas sekat-sekat agama dari O Hashem.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Nasionalisme</span></strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="EN-GB">Ami Omar bukan sekadar penulis buku-buku keislaman. Beliau punya semangat nasionalisme yang tinggi yang selalu ditunjukkan dalam berbagai kesempatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Saat di Lampung, Ami sangat kesal dengan beberapa rekan dokternya yang memanipulasi dana sarana rumah sakit daerah ke anggaran pemerintah melalui Departemen Kesehatan. Ia melakukan teguran dan protes keras sehingga nyaris menamatkan karirnya. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Baginya, manipulasi anggaran sama saja dengan mencuri harta rakyat Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Pernah ada rombongan dari Majma Ahlulbait Dunia silaturahmi ke Indonesia. Hampir semua ustad Ahlulbait di Jakarta datang. Ami membawa keponakannya, Hasan, yang jago teknologi informasi bahkan pernah diwawancara oleh media televisi di Amerika Serikat. Alih-alih dialog, para tamu itu menceramahi pentingnya dakwah dan segala macamnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Ami berkomentar sinis, “Mereka tidak tahu Indonesia sama sekali. Baru datang langsung ingin menceramahi kita, seolah-olah kita ini bodoh. Seharusnya mereka tahu etika, tampung saja masukan dari bangsa Indonesia tentang peran apa yang diharapkan oleh lembaga Ahlulbait internasional. Bila begini terus, mereka merasa jumawa dan tidak akan pernah mau mengerti orang lain. Saya bawa Hasan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa orang Indonesia sudah go international tanpa bantuan mereka sedikitpun.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Dalam kondisi apa pun, Ami selalu berusaha berobat di puskesmas. Bila tidak bisa ditangani, barulah ia pindah ke rumah sakit pemerintah lainnya. Katanya, “Kalau orang-orang seperti kita tidak mau menghargai puskesmas, lalu siapa lagi?” Ami sering berkata bahwa kemajuan bangsa terletak kepada kecintaan terhadap produk dalam negeri, betapa pun sederhananya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Gelisah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Menjelang wafat, Ami mengaku gelisah karena dua hal: Adanya orang kaya yang seenaknya saja memanfaatkan ketidakberdayaan orang miskin. Ini merujuk kasus Syeh Puji yang memperistri seorang anak kecil miskin dengan imbalan uang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Karena itulah, dengan kondisi leher ditopang oleh tangan istrinya, ia berusaha menulis tentang ‘pernikahan dini’ Rasulullah dan Aisyah yang menjadi dalih Syeh Puji. Menurut penelitian Ami, Aisyah bukan berumur 9 tahun sebagaimana yang diyakini banyak kalangan, melainkan sudah dewasa. Demikian kuat rasa keadilan dan pembelaannya terhadap perempuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kegelisahan kedua berkenaan dengan sepak terjang kaum Wahabi, yang suka mengafirkan umat Islam lain yang berbeda paham dengannya. Ami sering berkata, “Nabi Muhammad itu begitu agung, Kitab suci Islam begitu indah. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Tapi mengapa umatnya kok galak dan puritan begitu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Dari pengalaman-pengalaman hidup seperti itu, Ami Omar terbilang orang yang berani. Tapi ia sesungguhnya anti kekerasan dan klaim merasa benar sendiri. Katanya, “Aksi kekerasan dan merasa benar sendiri hanya akan membawa kerusakan dan kemunduran bagi umat Islam, tidak akan menambah apa pun bagi pelakunya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Beberapa hari sebelum Ami masuk RS MMC, beliau menelpon Abdullah tentang penyakitnya. Bukannya mengeluh, semuanya diceritakan dengan penuh humor tentang rokok, dokter, dan yang berhubungan dengan kesehatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sejak dulu beliau memang tidak suka bicara tentang penyakitnya. Apalagi mendramatisir penderitaannya. Kalau ditanya sakit apa, ia segera merespon balik dengan jenaka, “Antum butuh penyakit apa dari tubuh ana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Di rumah sakit, Almarhum bilang masih punya hutang ingin ziarah ke Karbala, tempat terbantainya Husain bin Ali, cucu Nabi. Beliau juga mengutarakan keinginannya ke Gaza (ketika itu Gaza diserbu oleh Zionis, membunuh 1300 orang), menolong mereka yang tertindas.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Bagi Ami, peristiwa Asyura selalu membuat pipinya yang sudah keriput menjadi basah oleh air mata. Asyura menggambarkan betapa kejamnya manusia terhadap manusia lain. Apalagi sebenarnya Husain tidak berbuat apa-apa, ia hanya tidak ingin berbaiat. Andaikata ia membaiat seorang pemimpin zalim (Yazid bin Muawiyah), berarti ia menyalahi risalah kakeknya, Rasulullah, dan mengakui kezaliman.</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Sabtu, 24 Januari 2009, pukul 09:40 WIB, Omar Hashem Assegaf wafat dalam usia 74 tahun akibat komplikasi penyakit kanker, paru-paru, asma, dan diabetes yang dideritanya sejak lama. Jenazahnya dimakamkan sore harinya di Tanah Kusir. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Omar Hashem tidak meninggalkan harta berlimpah. Namun semangat hidupnya yang tak kunjung padam, sikap rendah hati dan rasionalnya dalam menapaki tangga-tangga kehidupan, kecintaannya kepada ilmu pengetahuan sebagaimana yang dibuktikan dalam buku-bukunya akan selalu bersemayam dalam setiap dada pencinta Rasulullah dan Ahlulbaitnya. Sungguh, bangsa Indonesia dan khususnya umat Islam telah kehilangan guru dan cendekiawan serba bisa. </span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"><em>Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun</em>. Selamat jalan guruku, ayahku, sahabatku… [andito]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Karya-karya dr. O. Hashem yang sudah terbit:</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"><span>1.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Rohani, Jasmani dan Kesehatan</span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> (1957)</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"><span>2.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Keesaan Tuhan</span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> (1962)</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"><span>3.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Marxisme dan Agama</span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> (1963)</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><span>4.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Jawaban lengkap kepada Prof. Dr. Verkuyl </span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">(1967)</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><span>5.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Menaklukkan Dunia Isl</span></em></span><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">am</span></em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> (1968)</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><span>6.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Saqifah: Awal Perselisihan Umat</span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> (YAPI Lampung, 1983)</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"><span>7.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Muhammad dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru</span></em></span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><span>8.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Wanita dalam Islam dan Kristen</span></em></span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><span>9.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Sembahyang dalam Islam dan Kristen</span></em></span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><span>10.<span style="font:7pt &quot;">  </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Nahjul Balaghah</span></em></span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"><span>11.<span style="font:7pt &quot;">  </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Syi’ah ditolak, Syi’ah Dicari</span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> (Al-Huda, 2000)</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"><span>12.<span style="font:7pt &quot;">  </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Darah dan Air Mata</span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> (Al-Huda, 2002)</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"><span>13.<span style="font:7pt &quot;">  </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi</span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> (Mizan, 2004) </span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><span>14.<span style="font:7pt &quot;">  </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Muhammad Sang Nabi</span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> (Ufuk, 2005)</span></p>
<p style="text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><span>15.<span style="font:7pt &quot;">  </span></span></span><span dir="ltr"><em><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Benarkah A’isyah Menikah dengan Rasulullah saw di Usia Dini? </span></em></span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">(Mizan, 2009)</span></p>
<p style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/281/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=281&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/06/obituari-dr-o-hashem-semangat-hidup-rasionalitas-dan-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/03/ohashem.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ohashem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kitab Suci</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/05/kitab-suci/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/05/kitab-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 03:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[ 
Oon: Darimana anda mengenal dan percaya Tuhan?
Santri: Dari kitab-Nya.
Oon: Mengapa?
Santri: Karena di dalam kitab-Nya itulah diterangkan bahwa Dia itu ada.
Oon: Berapa jumlah Tuhan?
Santri: Satu.
Oon: Darimana kau mengetahui dan mengklaim demikian?
Santri: Dari kitab-Nya.
Oon: Bagaimanakah konsep Tuhan dalam keyakinan anda?
Santri: Seperti yang digambarkan dengan jelas di dalam ayat-ayat-Nya. Tuhan itu punya mata, telinga, hidung, tangan, dan kaki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=275&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> <a href="http://gratefulweb.typepad.com/photos/uncategorized/2007/12/07/evangelism.png"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-276" title="6a00e3932f6cd9883400e54f9acde28833-800wi" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/03/6a00e3932f6cd9883400e54f9acde28833-800wi.png?w=124&#038;h=96" alt="6a00e3932f6cd9883400e54f9acde28833-800wi" width="124" height="96" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Darimana anda mengenal dan percaya Tuhan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Dari kitab-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Mengapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Karena di dalam kitab-Nya itulah diterangkan bahwa Dia itu ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Berapa jumlah Tuhan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Satu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Darimana kau mengetahui dan mengklaim demikian?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Dari kitab-Nya.<span id="more-275"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Bagaimanakah konsep Tuhan dalam keyakinan anda?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Seperti yang digambarkan dengan jelas di dalam ayat-ayat-Nya. Tuhan itu punya mata, telinga, hidung, tangan, dan kaki tapi semuanya tidak seperti kepunyaan kita yang terbatas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Jadi, bila mata manusia itu bulat, maka mata Tuhan bisa jadi segitiga sama kaki, atau bentuk lain selama tidak bulat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Ya, mungkin saja. Hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti kita memang tidak bisa membayangkan-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Iya, aku sendiri sulit membayangkan mata Tuhan. Pernahkah dia belekan? Hm, berarti anda telah beriman sebelum beriman dong?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Maksudnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Sebenarnya anda sudah percaya Tuhan itu ada. Kemudian anda merujuk kepada sebuah kitab yang dikatakan orang-orang sebagai Kitab-Nya. Sehingga rujukan yang anda lakukan hanyalah menguatkan keyakinan anda sebelumnya, bukan memberikan informasi baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Tapi saya memang tidak mengenal Tuhan kecuali dari Kitab-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Mungkin maksud anda: tidak mengenal Tuhan secara kelembagaan atau simbolis sebagaimana yang ada di agama-agama formal. Hakikatnya anda sudah percaya ada sesuatu yang Mahakuasa di luar sistem alam ini, hanya saja anda tidak tahu bahwa Tuhan itu adalah sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Apakah itu problem?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Tidak juga. Kalau iya, itu masalah anda. Tapi aku ingin mengingatkan saja, keyakinan anda tentang Tuhan dari Kitab-Nya adalah tindakan yang tergesa-gesa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Maksudnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Apakah anda sudah membaca kitab “Anditoaja”?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Belum. Kitab apakah itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Oon: Itu kitab suci yang lebih komprehensif. Di sana disebutkan bahwa Tuhan sejati adalah Hantu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Santri: Ah, omong kosong. Kitabmu pasti palsu! Kitab suciku mengatakan barang siapa yang tidak percaya dengan isi Kitab-Nya buatlah ayat-ayat tandingan, niscaya tidak akan bisa!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Jawab: Di dalam kitab suciku pun demikian. Di sana disebutkan bahwa ciri-ciri orang yang tidak beriman adalah yang suka membantah dengan berkata: “Ah, omong kosong. Kitabmu pasti palsu!”<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Lembar dialog di atas pernah aku sebarkan kepada teman-teman aktivis masjid pada tahun 95-an. Karena saat itu aku baru belajar filsafat, maka cara aku menyebarkan lembar-lembar tersebut rada provokatif dan membuat gelisah pengurus masjid. Tapi beberapa responden menyambut positif. Ia mengakui, dialog-dialog tersebut tabu dilontarkan dalam pengajian yang dia ikuti bertahun-tahun. Katanya lagi, kita mungkin hapal banyak ayat, namun belum tentu bisa menjawab beberapa pertanyaan nakal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Aku tidak peduli apa dan bagaimana konsepsi Tuhan dalam imaji orang-orang. Tapi yang menarik adalah kerancuan berpikir tentang apa yang mereka imani. Karena kerancuan itulah banyak ulama yang mewanti-wanti jamaahnya agar jangan baca buku ini dan itu, jangan bergaul dengan si anu, karena iman bisa goncang. Berarti, secara tidak langsung para ‘orang pintar’ itu, ulama adalah orang yang berilmu, menyadari betapa doktrin yang mereka tanamkan tidak punya pondasi berpikir yang kuat dan logika yang runut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Karena itu, untuk keluar dari lingkaran kejumudan massal tersebut, mungkin kita perlu mengkaji kitab Anditoaja, sebuah kitab yang mengajak kita untuk berani menertawakan diri kita sendiri, sebagai sosok yang selalu berproses dalam keimanan. [andito]</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/275/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=275&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/03/05/kitab-suci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/03/6a00e3932f6cd9883400e54f9acde28833-800wi.png?w=124" medium="image">
			<media:title type="html">6a00e3932f6cd9883400e54f9acde28833-800wi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kereta</title>
		<link>http://anditoaja.wordpress.com/2009/02/24/kereta/</link>
		<comments>http://anditoaja.wordpress.com/2009/02/24/kereta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 18:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anditoaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anditoaja.wordpress.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[
 
Jumat 20 Februari 2009, jam 16-an WIB.
Kereta Rangkaian Listrik baru saja tiba dari arah Jakarta. Di sore mendung itu aku tetap memaksa masuk ke gerbong keempat tak berlampu dan sudah dijejali penumpang. Aku harus tiba di Depok secepatnya. Mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, tas punggung aku sandang di dada. Hape juga sudah aku pindahkan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=272&subd=anditoaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><a href="http://www.swaberita.com/wp-content/uploads/2008/07/penumpang-krl-panik-akibat-krl-jakarta-bogor-korslet.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-273" title="penumpang-krl-panik-akibat-krl-jakarta-bogor-korslet" src="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/02/penumpang-krl-panik-akibat-krl-jakarta-bogor-korslet.jpg?w=128&#038;h=81" alt="penumpang-krl-panik-akibat-krl-jakarta-bogor-korslet" width="128" height="81" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Jumat 20 Februari 2009, jam 16-an WIB.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kereta Rangkaian Listrik baru saja tiba dari arah Jakarta. Di sore mendung itu aku tetap memaksa masuk ke gerbong keempat tak berlampu dan sudah dijejali penumpang. Aku harus tiba di Depok secepatnya. Mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, tas punggung aku sandang di dada. Hape juga sudah aku pindahkan dari saku celana ke dalam tas. Di dalam demikian pengap. Aku dorong sedikit-sedikit orang-orang yang di dalam agar aku bisa juga nyempil di antaranya. Untunglah tinggi badanku di atas rata-rata sehingga cukup menghirup udara di atas kepala penumpang. <span id="more-272"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Di dalam gerbong kereta semua tipe penumpang, lansia, pedagang buah, waria, hingga ibu yang kerepotan menggendong anaknya. Semuanya basah dengan keringat. Apalagi di Tanjung Barat hujan deras tiba-tiba mengguyur kuda besi ini. Jendela-jendela yang sejak awal sudah setengah tertutup ditutup sekalian. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Maka sempurnalah kepengapan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ketika aku baru mulai bekerja di Tebet pada akhir 2001, aku sempat tinggal satu tahun di Bogor. Alasannya sederhana. Suhu Bandung itu dingin. Bila pindah ke Jakarta yang panas secara tiba-tiba pasti akan mengagetkan. Jalan tengahnya ya tinggal di Bogor yang lumayan sejuk. Selain itu, teman-temanku yang sudah hijrah lebih dahulu dari Bandung juga banyak yang tinggal di Bogor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Dari Bogor ke Jakarta, aku selalu naik KRL yang baru tiba supaya dapat kursi kosong dan PW, posisi wuenak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kehidupan demokratis dipraktikkan di kereta listrik. Jangan harap ada pemandangan orangtua berdiri sedangkan anak muda duduk dengan cueknya. Ada juga sih anak muda yang tidak malu, duduk cuek di depan orangtua yang kepayahan. Tapi mereka biasanya berakting pura-pura tidur, atau sengaja melelapkan diri. Seperti aku. Karena harus bangun pagi dan perjalanan Bogor-Tebet memakan waktu satu jam, maka aku usahakan selalu tidur selama perjalanan. Setibanya di Stasiun Tebet, badan sudah segar dan serasa dimassage dan sauna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Tidak ada penumpang yang merokok. Sehingga udara di dalam kereta dijamin lebih bersih daripada angkutan darat lainnya. Karena merokok di kereta di dalam kereta yang sesak hanya memancing kemarahan penumpang. Hal berbeda jika saya naik kereta ekonomi ke luar provinsi. Penumpang seenaknya mengepulkan asap beracunnya tanpa peduli dia telah membunuh pelan-pelan perokok pasif disebelahnya. Tidak salah bila aku katakan bahwa perokok adalah makhluk paling egois di dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Kehidupan di kereta cukup mengasyikkan selain karenanya ongkosnya yang paling murah dari semua jenis angkutan umum. Apalagi bagi mereka yang lihai menghindar dari penjaga karcis, pulang pergi bisa gratis. Meskipun di kemudian hari baru aku sadari, tentu setelah aku juga berulangkali menjadi penumpang gratis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Negara dirugikan akibat ulah penumpang kapitalis seperti itu. Karena harga karcis yang murah, juga karena hasil penjualan karcis digunakan untuk pemeliharaan alat transportasi massal paling berat itu. Tidak heran, penumpang KRL Jabotadebek pada tahun 2007 menembus angka 118 juta orang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Yang pasti, secara umum di kereta tidak gesekan kelas sosial yang berarti. Semua manusia adalah sama di mata masinis. Boleh saja sih anda bersikap sok kaya. Tapi jangan menyesal bila anda menjadi pusat perhatian pencopet. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Banyak cerita di dalam kereta. Para penumpangnya yang secara kebetulan terkondisi selalu pulang pergi bersama banyak yang berinisiatif membuat grup kongkow. Para ‘aktivis gerbong’ ini biasanya punya gerbong favorit dan kursi sendiri. Setiap pagi biasanya mereka saling tukar cerita tentang kondisi keluarga atau rumah tangganya masing-masing. Setiap pulang kerja mereka juga tukar cerita tentang lingkungan kerjanya. Tidak heran, karena bertemu setiap hari, muncul rasa suka dan simpati yang menjadi alasan bagi beberapa orang untuk selingkuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Namanya juga kelas ekonomi, tentu banyak juga nestapanya naik KRL. Beberapa kali aku lihat kereta mogok karena listrik padam, penumpang (gelap) yang jatuh dari atap, pedagang klontong yang melihat lorong gerbong seperti lapangan bola, berjalan seenaknya. Tapi semuanya selalu menarik diingat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">KRL aku rasakan dari 2001-2002. Dan aku tidak pernah melihat ada masinis yang ugal-ugalan seperti supir biskota. Ya iyalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="IT">Dan di Jumat sore itu, di tahun 209, aku memaksa masuk gerbong yang penuh sesak dan tak berlampu. Setibanya di Stasiun Depok Baru, aku baru sadari ketiga ponselku, 1 CDMA dan 2 GSM, lenyap tanpa izin. Bagian kiri tas sobek sepanjang 10 cm. Retsleting terbuka seukuran dua telapak tangan orang dewasa. </span><span style="font-size:9pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Padahal tas punggung itu aku sandang di dada. [andito]</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anditoaja.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anditoaja.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anditoaja.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anditoaja.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anditoaja.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anditoaja.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anditoaja.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anditoaja.wordpress.com/272/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anditoaja.wordpress.com/272/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anditoaja.wordpress.com/272/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anditoaja.wordpress.com&blog=2495310&post=272&subd=anditoaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anditoaja.wordpress.com/2009/02/24/kereta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9b2170cf1bae2a275981443cf4cdfc76?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Adit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anditoaja.files.wordpress.com/2009/02/penumpang-krl-panik-akibat-krl-jakarta-bogor-korslet.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">penumpang-krl-panik-akibat-krl-jakarta-bogor-korslet</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>