Kalau Agustus 29, 2008
Posted by anditoaja in Asal Nulis.4 comments
X : Kalau saya dapat uang 1 milyar, saya mau kasih Anda 100 juta.
Y : Hah, 100 juta?
X : Iya, kenapa? Senang, kan? (lagi…)
Mikaila Maret 6, 2008
Posted by anditoaja in Asal Nulis.2 comments
Gambar new age ini menampilkan sebuah hamparan langit kelam. Di tengahnya ada kotak-kotak macam papan catur yang menjadi pembatas bagi bidang di bawahnya yang lebih terang.
Gadis itu melihat sekilas. “Ini harus dilihat terbalik, tidak bisa seperti apa adanya.” Katanya sambil menunjuk gambar tersebut. “Daerah atas ini sebenarnya adalah dunia tempat manusia hidup. Sekat di tengah yang harus ditembus manusia adalah tempat perhitungan amal. Bagian bawahnya adalah surga. Tapi juga harus dilewati sebelum akhirnya sampai ke rumah Allah.” (lagi…)
Jodoh Februari 25, 2008
Posted by anditoaja in Asal Nulis.add a comment
“Ya habis gimana lagi kalau udah jodoh?” Inilah kalimat acap aku dengar saat ngobrol dengan sejumlah pasangan.
Benarkah?
Aku curiga, jodoh itu tidak sedramatis yang kita kira. Sebagaimana juga kehidupan sosial, maka perjodohan, persandingan 2 orang lain jenis dalam bahtera rumah tangga, tidak lepas dari kontrak sosial. Ya, itu masalah sosial. Dalam relasi sosial, selalu ada take and give. Hukum umumnya, anda akan terima sejauh apa yang anda beri. Kita juga gak bisa dapat semua apabila kita tidak memberikan semua. (lagi…)
Laut Februari 20, 2008
Posted by anditoaja in Asal Nulis.add a comment
Laut itu sudah menunggu. Demikian luas dan dalam. Warnanya biru, sangat jernih. Dengan darat hanya dibatasi tempok beton. Aku melihatnya dari bangunan ibadah yang sudah tua.
Bangunan ini persis di pinggir lautan itu. Air merembes masuk ke bangunan tersebut. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku.
Tapi tiba-tiba mulai muncul penghuni bangunan itu, kadal-kadal besar bermunculan dari sela-sela bawah dinding. Mereka bersiap melahapku. Aku teringat pimpinan mereka, seekor buaya berbadan manusia. Buaya inilah yang membunuhi saudara-saudaraku sesama manusia tapi dengan lembutnya mengajak aku bergabung dengannya.
Aku dipanggil berkali-kali oleh suara batin, “Ayo gabung saja di lautan. Sekarang atau nanti sama saja. Toh, nanti engkau akan bertemu dan tenggelam di dalam lautan ini!”
Di situ ada bidadari cantik.
Aku tidak bisa berenang.
Tapi aku kan bisa berenang bersamanya, sambil mendekap dadanya.
Laut itu sudah menunggu.[]
