Taaruf April 2, 2008
Posted by anditoaja in Sosial.trackback
Tidak ada pacaran dalam Islam. Itu inti dialog Fahri dengan teman-temannya tentang pendamping hidup di film “Ayat-Ayat Cinta”. Beberapa adegan lain di film itu juga mengeksplisitkan hal ini. Dijelaskan, Islam sangat menjaga hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak muhrim atau terikat tali pernikahan. Bila kita tertarik dengan seseorang, maka langkah yang dilakukan adalah taaruf (perkenalan), khitbah (lamaran), dan nikah. Benarkah?
Aku lihat ada pembunuhan karakter tentang pacaran di dalam film “Ayat-Ayat Cinta”, sebuah perilaku sosial yang lazim dilakukan dua arah oleh muda-mudi (kalau orang dewasa: tua-tui). Nilai dan esensi pacaran menjadi negatif dan busuk karena dipraktikkan oleh masyarakat sekuler dan hanya karena ada kejadian satu-dua aktivitas seksual. Tapi bisa juga karena pikiran ngeres aktivis Islam itu, seolah-olah yang namanya pacaran pasti begini-begitu. Intinya, tidak ada pacaran dalam Islam.
Akhirnya, dengan berat hati, kampanye “tidak ada pacaran dalam Islam” adalah bukti keberhasilan hegemoni patriarkis dengan label agama. Dogma ini mengkondisikan setiap laki-laki dan perempuan mencari “yang lain” di luar arena pergaulan dan aktivitasnya sehari-hari.
Lihatlah “Ayat-Ayat Cinta” secara seksama. Secara alamiah, Fahri sudah mengenal Nurul cukup lama. Di antara mereka juga sudah mengenal. Bila dicermati lebih jauh, keduanya pun sebenarnya sudah saling suka. Hanya perasaan sungkan dan struktur sosial saja yang menghalangi Fahri tidak bisa “nembak” Nurul secara langsung.
Di biskota Fahri bertemu Aisha, seorang gadis cantik bercadar. Sekali lagi, gadis cantik. Darimana Fahri tahu? Lihat tatapannya yang tidak berkedip saat melihat mata dan alis Aisha yang indah nian. Membuat seluruh bulu Fahri lemas. Sangat penting dicatat, bahwa Fahri juga tahu Aisha itu blasteran Jerman.
Saat pertemuan kedua atau ke sekian kali, di sela-sela interview dengan jurnalis Amerika, Fahri memperoleh informasi tidak sengaja bahwa Aisha adalah keponakan dari temannya yang berdarah Jerman. Kebetulan mereka satu guru. Dan, puji Tuhan, Fahri ditawari menikahi keponakan temannya dengan mak comblang guru kinasihnya itu. Maka, adakah kucing sok jaim yang ogah makan umpan di depan mata?
Seandainya Hanung Bramantyo si sutradara tahu bagaimana praktik taaruf yang terjadi di dunia aktivis Islam, maka ia akan sependapat bahwa taaruf adalah adalah rekayasa untuk mendapatkan istri cantik. Bagi laki-laki, taaruf adalah takdir terindah dalam hidupnya. Ini adalah obsesi memperbaiki keturunan. Sedangkan bagi si cewek, ia seperti membeli kucing dalam karung. Eh salah, membeli kucing dalam karung pun masih lebih bagus. Setidaknya ia tahu bahwa ia sedang membeli kucing yang kerjaannya makan ikan, bukan jualan ayat-ayat suci berlabel cinta.
Tapi proses taaruf lebih kejam. Cewek ini akan memilih suami seumur hidupnya. Dan dia hanya diberi penjelasan ringkas yang tidak memadai sama sekali untuk sebuah informasi menyeluruh tentang calon suaminya.
Dalam hubungan dan komunikasi yang manusiawi, laki-laki dan perempuan bisa bertemu secara normal. Sehingga di antara mereka bisa jadi saling mengenal karakter masing-masing secara alamiah. Nurul dan Fahri sudah saling kenal cukup lama, maka tidak akan ada lagi taaruf model di balik tabir atau via pengerahan massa ortu dan handai tolan yang membuat hubungan natural ini menjadi dramatis.
Seharusnya Fahri menikahi Nurul, atau Maria, sebelum menikah atau selingkuh dengan Aisha. Tapi sistem taaruf membuat Fahri terkondisi tidak menikahi Nurul meskipun keduanya saling naksir. Meskipun Nurul anak kyai gede. Meskipun Nurul sudah mulai agresif untuk menyatakan cinta. Kenapa tetap tidak bisa? Karena taaruf memprasyaratkan secara implisit ketidakkenalan kedua belah pihak. Ralat, ketidakkenalan perempuan terhadap calon suaminya. Ini tidak berlaku untuk laki-laki karena ia mempunyai jaringan yang lebih luas untuk menguliti siapa calon mempelainya luar dalam.
Jadi, setting taaruf seperti tayangan televisi “Akhirnya Datang Juga”. Sang calon istri berdegup kencang menanti siapa yang akan menjadi pasangannya kelak. Bila dapat seperti Brad Pitt, maka ia bisa bersujud syukur. “Oh Tuhan, akhirnya Kau menjawab doaku…” Namun bila ia bertemu Tuan Takur, ia juga bisa bersujud dan bergumam lirih, “Oh Tuhan, inikah mimpi buruk itu??? Berilah hamba ketabahan menghadapi cobaan ini.”
Maka, tidak heran Aisha terkaget-kaget. Baru sebulan menikah ternyata suaminya bermasalah pidana. Aisha salah memilih karung. Buktinya adalah ucapan Aisha kepada Fahri, “Kita sudah menikah satu bulan. Tapi aku sama sekali tidak mengenalmu!” Tapi tetap saja itu dianggap bukan sebuah kesalahan. Melainkan ujian kesabaran bagi istri.
Setting taaruf membuat perempuan sulit menolak karena pengkondisian yang membuat dia hanya menjadi manekin yang berhak dipelototi luar dalam. Laki-laki bisa mempermasalahkan wajah perempuan yang tidak cantik. Tapi aku belum pernah dengar perempuan bisa menolak calonnya karena perut buncitnya. Apalagi saat perempuan melihat kondisi umur dan harapan keluarganya.
Dan adegan taaruf di “Ayat-Ayat Cinta” mudah ditebak. Laki-laki mana sih yang tidak naksir Rianti, eh, Aisha? Lihat saja ekspresi konak Fahri saat melihat wajah dibalik cadar Aisha. Kalau takdir berbicara lain, Fahri bisa bilang sambil menundukkan pandangan, maklum jaim, “Aisha, kutunggu jandamu. Demi syiar Islam…” Dan seluruh kriteria calon istri yang diajukan Fahri bisa berubah kapan pun sesuai kondisi objeknya. Sungguh visual tetap lebih kuat dan bisa mengubah idealisasi awal.
Agama hadir untuk mengaktualkan nilai-nilai kemanusiaan. Tapi di mana pun agama itu ada, selalu ada rembesan budaya yang mengintil bersamanya. Meskipun nilai budaya tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan ajaran agama itu sendiri.
Cinta tidak bisa dipaksa. Ia tumbuh melalui proses kesadaran, interaksi yang sejajar dan berdialektika. Taaruf merusak komuniksai alamiah itu. Taaruf adalah salah satu peninggalan primitif masyarakat gurun yang masih menjadikan perempuan sebagai ornamen rumah sejajar dengan gorden, piring, dan toilet (baca: bisa diperlakukan sesuka hati: dirobek-robek hatinya, dipecahkan, atau diludahi).
Dan, “tidak ada pacaran dalam Islam,” adalah sebuah dogma primitif yang menegasikan sisi kemanusiaan kita. [andito]
hmm, kesimpulannya.. Islam mengajarkan pacaran?
Tulisannya sudah berkarakter. Teruskan bos! Sinis tapi cerdas.
hahahaha yang ga taaruf and tetep dapet kucing dlm karung namanye dpt kucing dalam bakwan….
sepakat dengan amuli. karakter tulisannya mantaf. Pingin euy.
pacaran, sebagai sebuah perilaku sosial, adalah netral. Ia bisa bermakna positif dan negatif tergantung maksud dan tujuan tiap pasangan. Tapi kalo taaruf sudah pasti gak netral.
anditho memang hebat! dan ia adalah teman saya..!
apa bedanya pacaran dengan taaruf?
bagi saya secara konsepsi sama..
tapi definisi pacaran secara fenomena saya sepakat dengan pendapat anda..
Lucu pembahasannya postingannya, mengatas namakan islam, saya rasa ini pendapat anda pribadi , Yang harus di ingat hak pilih dan memutuskan ada di tangan wanita, apakah ia setuju atau tidak, ada banyak kasus wanita yang mengadukan permasalahan hal serupa kepada nabi itupun kalau anda mau kaji hadist2 nabi dan bagaimana Islam memuliakan hak wanita tersebut.
Untuk anda ketahui, adik saya melakukannya juga dia hanya 15 menit melihat calonnya setelah itu menentukan tanggal dan adik saya juga memakai cadar, tapi tentunya cadar yang terhormat tidak seperti dalam film ayat-ayat cinta atau gambar di postingan anda yang alisanya terlihat dan seperti melorot. dan dia tidak merasa membeli kucing dalam karung, dan dia sudah 4 tahun membina rumah tangga dan memiliki 2 anak dan alhamdulillah sampai detik ini berjalan dengan baik dan semoga sampai seterusnya.
ass, penulis yang hebat, tulisan anda memang saaaaangat bagus tapi sayang tidak berenergi. sy termasuk orang yang tidak sependapat dengan apa yang penulis tuturkan. sudah sangat jelas dalam islam tidak ada pacaran. penulis yang pitar coba anda ingat sudah berapa banyak wanita yang tersiksa akibat pacaran alias apa bila dua insan manusia sudah saling mencintai berlebihan, maka semakin hari akan semakin besar cintanya sama pasangannya apabila sudah sangat besar legamlah hatinya kalau sudah legam maka rasa malu akan hilang. kalau sudah hilang rasa malu maka apapun yang diminta sang pacara dia akan menurutinya.
taaruf adalah salah satu cara bertemunya dua insan yang memiliki keiinginan yang keputusannya tergantung pada kedua insan tersebut apabila cocok maka lanjut kejenjang pernikahan kalua tidak cocok maka mereka harus memperkuat ukhuah.jadi tidak ada penbunuhan hak asasi disini.
tp semuanya tergantung perspektif masing-masing kalua ada mengiinkan pacaran pacaran saja sampai menemukan kerugian tp kalau sudah menemukan kerugian cepatlah bertaubat. Allah memberikan kita dua jalan kebaikan dan kejahatan serta fujur dan takwa maka gunakanlan pikiran ada dengan sebaik-baiknya.kalau boleh jujur pacaran atau taaruf bukan jalan menuju kebahagian tapi iman dan takwalah kunci semuanya oleh sebab itu jalankanlah perintahnya jauhi larangannya.saya sarankan kajilah kembali ajaran-ajarn islam secara baik dan benar.
fikiran bodoh yang anda ungkapkan…..
anda seperti dari perspektif anda sendiri, memng orng seperti anda yang sok tahu, tnpa menelusirinya kembali
taaruf bukan proses pemilihan kucing.karena di dahului dengan keyakinan.ia merupakan proses saja.dan jika anda mengambil contoh lewat film aac sangat jauh dari nilai2 itu…
Jadi heran kenapa ya orang suka nonton AAC?bagusan naga bonar jadi 2,heeee
taaruf perlu diperdebatkan, meskipun mengerahkan orangtua sebagai unsur “jaminan” dalam mencari pasangan hidup. tetap saja yang menjalaninya adalah sang anak yang akan meniah tersebut. bukan orang tua.
pacaran boleh hanya saja batas normal
Jujur aja, tulisan-tulisannya abang bener…..cerdas, juga sesuai dengan realita yang ada.
Andito, andito daripada mikiran hubungan cinta orang lain, lebih baik pikirin dan benahi hubungan cintamu dengan beberapa wanita yang kamu cintai itu. he he he sorry, BTW analisisnya cukup asyik, walaupun belum tentu benar dalam memahami dan mendefinisikan konsep ta’aaruf. Gue juga pake ta’aruf 1-2 bulan sebelum melamar istriku yang satu-satunya itu, (he..he.. sekarang sih maunya sih lebih dari satu biar lebih banyak amalnya, tapi kemampuan finansial dan psikologis-spiritnya belum kesampaiaan, jadi ya syukuri aja yang ada. Kan katanya, kalau kita bersyukur kepada-Nya, maka Ia akan menambahkan nikmat-Nya kepada Kita, Amin,)
PUJI TUHAN??!!!Cermati lagi kata-kata anda mas anditoaja??!!Anda bukan muslim dan mencoba merusak tatanan yang Islam gariskan………Semoga Allah selalu merahmati Anda!!! Bukan tulisan yang mendidik, tulisan yang membodohi dan menjerumuskan…..tolong jangan rusak agama kami dengan tulisan anda yang “konyol” ini.Pesan saya, pelajari baik-baik sebelum menuliskannya menjadi sebuah artikel yang dibaca banyak pihak…Wassalam
uh-uh…
jujur deh!!!
poin 1
jaman sekarang mana ada pacaran yang tidak begini-begitu?
NONSENS!!!
makanya islam ngelarang pacaran, and jadilah taaruf sebagai jalan…
poin 2…
praktik taaruf terkoordinasi yang ada dan kayanya jadi semacam trend saat ini juga belum sempurna, ada beberapa kasus, dimana guru/murobi yang mengenalkan mempunyai kendali atas jadi-tidaknya pasangan yang bertaaruf itu nikah, bisa dibilang restu guru > restu ortu…
poin 3
saya sendiri belum nonton ayat2 cinta…
tapi mungkin tidak bakal nonton
kenapa?
film cinta yang mengatasnamakan islam itu bukan film islam
klo niatnya nonton film islam seperti yang digembar-gemborkan malah bakal kecewa…
sekian
Lumayan kontroversial, tapi bagus…. Two Thumbs up!!
Ta’aruf bisa bagus bisa buruk, sebagaimana pacaran juga bisa bagus bisa buruk. Dan saya cenderung setuju sama Andito yang menyerang klaim bahwa “Ta’aruf” lah yang Islam…..dan Islam tidak mengenal pacaran. “Ta’aruf”, sebagaimana “pacaran”, adalah produk budaya. Dan budaya bukan agama, sebagaimana agama bukan budaya. Dan agama yang bisa mencakup seluruh alam dan jaman, harus mencakup semua budaya, kecuali ada hal khusus dalam budaya tersebut yang bertentangan dengan syariat. Misal: “tradisi makan babi dan minum khamar untuk memperingati kelahiran dewa Kesuburan di pergantian musim dingin ke musim semi”.Kenapa “Pacaran” bertentangan dengan Islam? Apakah karena adanya kepastian bahwa pacaran bertentangan dengan syariat? Atau dengan kata lain, apakah mereka yang mengharamkan pacaran itu bisa MEMASTIKAN bahwa yang namanya “Perzinahan” itu pasti terjadi dalam pacaran? Tolong dijawab secara simple, gak perlu pake penekanan statistik, atau argumentasi trend pergaulan, dst.
Oh ya, tuh ada yang kasih komentar berkaitan dengan ungkapan “Puji Tuhan!” Andito, seakan-akan bahasa Indonesia khusus dua kata tersebut hanya pernah, boleh, dan dapat digunakan oleh non-Islam. Padahal buka aja kamus, apa artinya “Alhamdulillah”?? Atau Islam kudu pake bahasa Arab??
Aduh…capek deh liat sakralisasi budaya suatu bangsa dengan merger ke agama.
andhito hebat?? ya hebat membual ^_^
sudah jelas taaruf aman dari dosa dan bukan membeli kucing dlm karung sprti pandangan org primitif melihat Islam.
sebelum taaruf, kita bisa melihat data diri dan wajah si calon, jadi bukan membeli kucing dalam karung BOZZ…
kalo tdk cocok bisa tidak jadi. Coba bandingkan dgn pacaran, korban perasaan, korban waktu, korban materi, korban segalanya..
kalau ga jadi, sakit hati. Itulah pacaran
kalo dlm taaruf, tidak ada sakit hati BOZZ..
OK
^_^
tentu saja kalangan non Islam menolak taaruf, karna buat mereka tdk dikenal itu yg namanya taaruf, yg mereka tau hanya pacaran, padahal pacaran itu banyak negatifnya daripada positifnya
masih mikir juga boZZ..
ntar rontok tuh rambut ^_^
Taaruf dan pacaran hendaknya tidak perlu didikotomikan. Bagiku, taaruf [arabic] = pacaran [indonesia], bisa dipahami/dijalani secara negatif/positif. Daku punya banyak teman yg lama pacaran, setelah menikah semakin harmonis. Tp daku juga punya teman yg setelah nikah jadi brantakan.
Demikian pula dengan taaruf. Daku punya teman yg setelah nikah semakin harmonis. Tapi ada juga juga teman yg menikah setelah taaruf, ngidamnya adalah selalu muntah tiap wajah suaminya.
Bagi pembela pacaran, tentu dalam batas2 yg wajar sesuai dengan harapan rekans Muslim ttg hubungan pria-wanita, putusnya hubungan/keluarnya uang tidak masalah. Lebih baik rusak/putus/sakit hati sekarang di saat bebas daripada sakithati setelah menikah.
Dalam kultur timur, banyak wanita yg memendam sakithati kpd suaminya tp ditahan2 karena sudah kepalang tanggung menikah dan punya anak. Sedangkan saat masih pacaran, kalo udah gak cocok ya putus saja.